Monday, March 18, 2013

MANAJEMEN KINERJA


Secara sederhana manajemen kinerja (performance management) adalah menterjemahkan visi perusahaan menjadi hasil kerja, baik individu, tim, dan organisasi. Penilaian kinerja sendiri merupakan suatu tugas administrasi yang dilakukan oleh para menejer, dan merupakan tanggung jawab utama dari Departemen Sumberdaya Manusia.

Ukuran-ukuran kinerja dapat membantu perusahaan-perusahaan untuk fokus pada keunggulan profesional, kesetiaan pelanggan, dan pengembangan manusia. Berbeda dengan perusahaan, pada pendidikan tinggi, ukuran kinerja tersebut menurut penulis masih merupakan hal yang mengawang-awang. Hal tersebut bisa dilihat dari kebijakan penetapan standar pendidikan yang ditetapkan oleh suatu badan yang disebut dengan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP), dan penilaian terhadap mutu yang dilakukan oleh badan lain yang disebut Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT).

Akreditasi institusi perguruan tinggi adalah proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen perguruan tinggi terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program Tri Darma Perguruan Tinggi, untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan. Evaluasi dan penilaian dalam rangka akreditasi institusi dilakukan oleh tim asesor yang terdiri atas pakar sejawat dan/atau pakar yang memahami hakekat pengelolaan perguruan tinggi. Keputusan mengenai mutu didasarkan pada evaluasi dan penilaian terhadap berbagai bukti yang terkait dengan standar yang ditetapkan dan berdasarkan nalar dan pertimbangan para pakar sejawat. Bukti-bukti yang diperlukan termasuk laporan tertulis yang disiapkan oleh institusi perguruan tinggi yang diakreditasi, diverifikasi melalui kunjungan atau asesmen lapangan tim asesor ke lokasi perguruan tinggi.

Konsekuensi yang dipikul institusi sangat jelas, jika tidak lolos akreditasi tersebut, namun seharusnya jika institusi memiliki nilai jauh di atas standar yang disyaratkan juga harus ada implikasinya terhadap organisasi maupun individu.

Dari pelaksanaan akreditasi yang selama ini penulis amati, jika hal tersebut dianggap sebagai ukuran kinerja perguruan tinggi, menyiratkan hal berikut:
1.    Tim asesor melakukan penilaian yang berfokus pada dokumen (bukti fisik), bukan realita pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sendiri, sehingga bias dari penilaian tersebut cukup besar, dan ada celah untuk berbuat curang/mengakalinya agar memenuhi standar yang disyaratkan
2.    Hanya dengan melakukan verifikasi dokumen dan kunjungan singkat, yang menurut penulis tidak menyentuh subtansi penilaian kinerja itu sendiri, tim bisa mengambil keputusan yang menurut penulis terlalu dini dan terkesan mengeneralisasi sesuatu, akibatnya keputusan yang diambil dalam pemberian nilai akreditasi tersebut tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya, akibat keterbatasan waktu terhadap objek amatan.

Idealnya penilaian performance tersebut dilakukan oleh internal organisasi tersebut terlebih dahulu, sebagai bagian proses kontrol yang dilakukan oleh tim yang kredible dan memiliki komitmen bagi kemajuan institusi. Mereka yang berada di internal institusi mengetahui baik-buruknya institusi, kekurangan dan kelebihan, dan perbaikan yang diperlukan. Untuk kepentingan hal tersebut, memang harus dibentuk tim yang solid dan memiliki kesamaan visi untuk perubahan ke arah yang lebih baik, dan sifatnya independen.

Dari proses di atas, dihasilkan output berupa penilaian untuk perbaikan, sehingga tugas BAN-PT bukannya melakukan verifikasi dokumen, namun memastikan sejauh mana rekomendasi dari tim penilai kinerja internal tersebut telah dilaksanakan oleh institusi, dan hasil yang dicapai dari perbaikan tersebut bagaimana/sejauh apa?.

Dapat disimpulkan bahwa proses penilaian performance internal tersebut melalui tahap sebagai berikut.
Ø  mendefinisikan kinerja à menentukan aspek-aspek kinerja yang berarti bagi organisasi
Ø  mengukur kinerja à aspek kinerja diukur melalui penilaian kinerja (performance appraisal) sebagai salah satu metode untuk mengelola kinerja
Ø  memberi umpan balik informasi kinerja à tujuannya untuk menyesuaikan kinerja mereka dengan sasaran organisasi atau mengaitkan imbalan terhadap kinerja melalui sistem kompensasi

Ada konsep pengukuran kinerja, yang menurut penulis lebih sesuai jika diimplementasikan pada pendidikan tinggi, yaitu melalui pengukuran KPI (key performance indicators), atau indikator kinerja utama (IKU) dalam bahasa Indonesia, adalah metrik finansial ataupun non-finansial yang digunakan untuk membantu suatu organisasi menentukan dan mengukur kemajuan terhadap sasaran organisasi. KPI digunakan dalam intelijen bisnis untuk menilai keadaan kini suatu bisnis dan menentukan suatu tindakan terhadap keadaan tersebut. KPI sering digunakan untuk menilai aktivitas-aktivitas yang sulit diukur seperti keuntungan pengembangan kepemimpinan, perjanjian, layanan, dan kepuasan. KPI umumnya dikaitkan dengan strategi organisasi yang contohnya diterapkan oleh teknik-teknik seperti kartu skor berimbang (BSC, balanced scorecard).
KPI berbeda tergantung sifat dan strategi organisasi. KPI merupakan bagian kunci suatu sasaran terukur yang terdiri dari arahan, KPI, tolok ukur, target, serta kerangka waktu. Sebagai contoh: "meningkatkan pendapatan rata-rata per pelanggan dari 10 ribu ke 15 ribu rupiah pada akhir tahun 2008". Dalam contoh ini, 'pendapatan rata-rata per pelanggan' adalah suatu KPI.
Berikut adalah gambaran beberapa kriteria pengukuran kinerja pada perguruan tinggi dengan menggunakan konsep pengukuran KPI.
No.
Kriteria Penilaian
Unggul
Baik
Berkembang
Tumbuh
1.
Status akreditasi
Rata-rata nilai akreditasi keseluruhan program studi berkisar antara
3.50-4.00
Rata-rata nilai akreditasi keseluruhan program studi berkisar antara
3.00-3.49
Rata-rata nilai akreditasi keseluruhan program studi berkisar antara
2.50-2.99
Rata-rata nilai akreditasi keseluruhan program studi berkisar antara
2.00-2.49
2.
Jumlah profesor
Rasio profesor dan dosen di Fakultas adalah kurang dari 1 : 4
Rasio profesor dan dosen di Fakultas adalah 1 : 4 sampai dengan
1 : 6
Rasio profesor dan dosen di Fakultas adalah 1 : 7 sampai dengan
1 : 9
profesor dan dosen di Fakultas adalah lebih dari 1 : 9
3.
Perbandingan dosen bergelar doktor
Rasio dosen bergelar doktor dan dosen di Fakultas adalah kurang
dari 1 : 3
Rasio dosen bergelar doktor dan dosen di Fakultas adalah 1 : 3
sampai dengan 1 : 4
Rasio dosen bergelar doktor dan dosen di Fakultas adalah 1 : 5 sampai dengan 1 : 6
Rasio dosen bergelar doktor dan dosen di Fakultas adalah lebih
dari 1 : 6
4.
Kuliah umum pembicara kualitas internasional
Fakultas mengadakan lebih dari 2 kali kuliah umum dengan
narasumber internasional dalam tahun berjalan
Fakultas mengadakan 2 kali kuliah umum dengan narasumber
internasional dalam tahun berjalan
Fakultas mengadakan 1 kali kuliah umum dengan narasumber
internasional dalam tahun berjalan
Fakultas tidak mengadakan kuliah umum dengan narasumber
internasional dalam tahun berjalan
5.
Jumlah lulusan mahasiswa Cum Laude
Fakultas menghasilkan persentase jumlah lulusan mahasiswa Cum Laude lebih dari 15% per tahun
Fakultas menghasilkan persentase jumlah lulusan mahasiswa Cum Laude antara 10% - 15%  per tahun
Fakultas menghasilkan persentase  jumlah lulusan mahasiswa Cum Laude antara 5% - 9% per tahun
Fakultas menghasilkan persentase jumlah lulusan mahasiswa CumLaude kurang dari 5% per tahun
6.
Mahasiswa studi tepat waktu
Fakultas memiliki mahasiswa studi tepat waktu lebih dari 50%
perangkatan
Fakultas memiliki mahasiswa studi tepat waktu antara 30% - 50%
perangkatan
Fakultas memiliki mahasiswa studi tepat waktu antara 10% - 29%
perangkatan
Fakultas memiliki mahasiswa studi tepat waktu di bawah 10% perangkatan

Jadi yang diukur bukan hanya kinerja individu dan kelompok, namun seluruh aspek yang mendukung performance organisasi itu. Kinerja individu, dan kelompok dalam organiasasi menjadi indikator kinerja organisasi secara keseluruhan, karena kinerja individu dan kelompok dalam organiasi tersebut merepresentasikan bagaimana organisasi tersebut kinerjanya, namun pada pendidikan tinggi, ada  unsur-unsur lain yang mendukung performance pendidikan tinggi itu sendiri, selain kinerja yang ditunjukkan oleh individu/kelompok tersebut.
Jadi identifikasi kinerja yang akan diukur tersebut ditentukan oleh organisasi, selanjutnya indikator yang dipergunakan untuk mengukur kinerja tersebut apa, standarnya berapa, kemudian baru dilakukan penilaian kesesuaiannya untuk menghasilkan performance tersebut. Dengan KPI tersebut, jelas indikator yang tetapkan, sehingga tidak mengawang-awang.

“BAN-PT merupakan lembaga yang menilai kinerja pendidikan tinggi secara keseluruhan”, bagaimana dengan kinerja individu/kelompok yang berada pada institusi pendidikan tinggi tersebut?. Untuk tenaga pendidik ada standar yang bisa dijadikan sebagai ukuran kinerja, yaitu penilaian angka kredit pada saat pengajuan diri untuk menduduki jabatan asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan guru besar. Komponen yang dinilai meliputi:
a.        pendidikan,
b.        melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan dan pengajaran, melaksanakan penelitian, dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat)
c.         unsur penunjang

Di samping adanya sistem penilaian kinerja yang jelas terhadap tenaga pendidik, ada reward yang diperoleh oleh tenaga pendidik, jika berhasil menduduki jabatan fungsional pada level berikutnya melalui tunjangan fungsional.


                                           
Jenis pendapatan tetap
Asisten Ahli
Lektor
Lektor Kepala
Guru Besar
Tunjangan fungsional
375.000
700.000
900.000
1.350.000


Jadi bisa dikatakan bahwa untuk pengukuran kinerja tenaga pendidik telah ada instrumen yang cukup memadai, dan adanya pengakuan terhadap kinerja yang ditunjukkan melalui peningkatan level jabatan dan impact lain, melalui peningkatan tunjangan fungsional yang diterima. Sedangkan untuk tenaga kependidikan, baru pustakawan dan pranata komputer yang memiliki evaluasi kinerja yang jelas dan pengakuan terhadap kinerja yang ditunjukkan tersebut, sedangkan untuk tenaga laboran, teknisi, staf keuangan, staf akademik, staf pengelola aset belum mempunyai sistem penilaian kinerja yang jelas.

Seharusnya kinerja sebuah organisasi meliputi evaluasi dan penilaian secara menyeluruh, terhadap setiap komponen yang ikut berperan dalam mewujudkan tujuan organisasi tersebut, bukan hanya sepotong-sepotong, sehingga menimbulkan ketimpangan dalam organisasi tersebut. Adanya penilaian kinerja yang jelas, mengindikasikan bahwa organisasi memiliki rencana pengembangan individu, maupun organisasi secara keseluruhan.



Referensi:

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. (2009). Key Performance Indicators dalam Rangka Monev Pencapaian Konsolidasi Kelembagaan. Universitas Indonesia: FISIP-UI.
Noe, Raymond A. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia: Mencapai Keunggulan Bersaing. Jakarta: Salemba 4.

Thursday, March 7, 2013

TEKNOLOGI SMART CARD: INFORMASI DAN PENGETAHUAN UNTUK MEMBANGUN AWARENESS


ABSTRAK
Smart card merupakan teknologi informasi yang memiliki kemampuan melacak dan membaca data/benda secara cepat, hanya saja pengembangan aplikasinya sendiri masih terbatas, dimana setiap lembaga mengembangkan aplikasinya  sendiri sesuai dengan proses bisnisnya. Jika kita pemerintah berkeinginan untuk membuat sebuah sistem dengan tujuan melayani masyarakat secara luas, teknologi smart card ini dapat diimplementasikan pada program e-KTP yang saat ini tengah berjalan, apakah teknologi yang akan digunakan berupa contact smart card ataupun contactless smart card. Jadi program e-KTP tersebut tidak terkesan seperti mendatabasekan data kependudukan.
Untuk membahas teknologi smart card ini, penulis melakukan kajian pustaka terhadap implementasi teknologi smart card, baik dari sisi keuntungan, kelemahan, celah keamanan, bagaimana jika hal tersebut diterap pada suatu lembaga, khususnya pada proses pendidikan di perguruan tinggi. Penulis meng-collect informasi dan pengetahuan dari sumber berupa jurnal, maupun sumber dari internet,dan mencoba menceritakannya kembali kepada pembaca terkait teknologi smart card ini, baik contact smart card ataupun contactless smart card dengan menggunakan teknologi RFID (Radio Frequency Identification).
Dari, hasil kajian yang penulis lakukan dapat penulis kemukakan bahwasanya, kurang awarenya user untuk menggali informasi dan pengetahuan, dari perkembangan teknologi yang bahkan telah dipergunakan secara luas, sering menjebak user pada posisi menjadi korban kemajuan teknologi tersebut, disamping kurangnya sosialisasi dari pihak pengembang. Teknologi ini sebenarnya telah digunakan oleh banyak orang, karena teknologi ini telah diterapkan pada SIM card handphone, hanya saja user tidak aware akan hal tersebut. User yang cerdas seharusnya menggali informasi, akan teknologi yang digunakannya, untuk memperoleh manfaat optimal, dan menghindarkan dirinya menjadi korban teknologi tersebut.



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Teknologi informasi, disadari atau tidak perkembangannya bukan hanya dinikmati oleh masyarakat yang berada di perkotaan, namun telah jauh menyentuh daerah yang lebih jauh dari kehidupan perkotaan, dimana masyarakat pelosok dan pedesaan berada. Walaupun dengan infrastruktur teknologi informasi yang masih terbatas, namun masyarakat pelosok dan pedesaan telah menikmati perkembangan teknologi informasi tersebut.
Teknologi sendiri telah dikenal oleh manusia semenjak jutaan tahun yang lalu karena adanya dorongan hidup untuk lebih nyaman, lebih makmur, dan lebih sejahtera (Alisyahbana, 1980). Tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi yang pesat khususnya teknologi informasi sudah merubah perilaku bahkan budaya manusia saat ini.
Informasi yang up to date sebagai dampak globalisasi, dapat dinikmati setiap orang berkat kemajuan dan perkembangan yang terjadi pada teknologi informasi. Bahkan kita dapat memperoleh informasi di belahan dunia lain, yang terbaru tanpa bergerak dari kursi yang diduduki.
Kemajuan teknologi informasi, ibarat dua sisi mata uang membawa nilai positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Disadari atau tidak perilaku dan budaya manusia perlahan-lahan mulai bergeser, akibat pengaruh perkembangan teknologi informasi tersebut.
Penulis sendiri tidak akan membahas masalah pengaruh perkembangan teknologi informasi tersebut terhadap perilaku dan budaya, namun lebih pada implementasi teknologi informasi itu sendiri yang begitu dekat dan dipergunakan setiap hari, namun kita tidak menyadarinya karena kurang aware-nya kita terhadap perkembangan teknologi informasi itu sendiri.
Dalam hitungan detik, sebuah teknologi informasi baru ditemukan dibelahan dunia, hanya saja butuh waktu yang cukup lama untuk dapat dinikmati oleh end user, khususnya di Indonesia.
Salah satu teknologi yang begitu dekat dengan keseharian kita dan sering kita gunakan adalah smart card. Smart card istilah yang mungkin asing ditelinga sebagian orang, namun jika kita menyebutkan istilah SIM Card, hampir semua orang mengetahui bahwa itu adalah kartu yang dipakai sebagai piranti akses pada handphone. SIM Card, merupakan salah satu piranti yang dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat bahkan hingga ke pelosok negeri, yang menggunakan teknologi smart card walaupun dengan kemampuan yang masih terbatas.
Selama ini kita tidak aware dengan keberadaan teknologi tersebut, berikut implikasinya keseharian yang kita jalani. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 241 juta jiwa membutuhkan implementasi teknologi informasi dalam manajemennya.
Walaupun saat ini tengah dikembang sistem kependudukan berbasis elektronik, namun pengelolaannya seperti apa, masyarakat belum tahu. Apakah hanya sekedar mengubah proses KTP manual menjadi elektronik, atau lebih dari pada itu, saat ini masyarakat luas sedang menunggu.
1.2 Masalah
Berangkat dari persoalan ke kurang pedulian mayoritas end user,  terhadap teknologi informasi yang digunakan, baik dari teknologinya sendiri, manfaat yang diperoleh, dan resiko yang harus dihadapi oleh user. Hal tersebut penting, karena jangan sampai kita sebagai end user, tak mampu mengoptimasi teknologi informasi yang kita miliki, dan termasuk dalam kategori user yang menjadi korban teknologi.
1.3 Tujuan
Melalui tulisan ini penulis berharap, dapat membangun kepedulian pada end user akan teknologi yang dipergunakannya agar tidak menjadi korban perkembangan teknologi informasi tersebut.
1.4 Manfaat
Melalui informasi yang coba penulis sampaikan dalam tulisan ini, penulis berharap  end user akan lebih aware akan teknologi informasi yang dimanfaatkannya, guna menghindarkan end user dari akses-akses negatif teknologi informasi tersebut.
1.5 Metode
Penulis menggunakan metode kajian literatur, untuk mengungkapkan hal yang ingin penulis sampaikan terkait persoalan yang telah penulis jelaskan di atas. 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Smart card
Indonesia merupakan jumlah pengguna handphone terbanyak ke empat di dunia setelah RRC, India, dan USA, namun jumlah user yang aware akan teknologi yang mereka gunakan masih sangat kecil. Sebagai contoh kecil, banyak pengguna handphone di Indonesia yang tidak mengetahui bahwa SIM card yang mereka gunakan di handphone-nya merupakan teknologi smart card.
Jika diperhatikan dengan seksama SIM Card handphone di belakangnya, ada bagian yang biasanya berwarna keemasan atau silver sebagaimana gambar berikut.


Gambar 1. Ukuran dan Komponen Smart card
Selama ini mungkin tidak semua orang menyadari bahwa teknologi ini telah kita miliki dan pergunakan dalam keseharian kita, karena biasanya pemikiran kita terkungkung bahwasanya teknologi ini diimplementasikan untuk kebutuhan yang rumit dengan spesifikasi kegiatan khusus. Namun, pada kenyataannya jika kita aware, ternyata teknologi ini sudah kita manfaatkan dalam keseharian kita.
Teknologi smart card ini sudah diimplementasikan pada beberapa jenis kartu kredit, dan kartu ATM. Identifikasi penggunaan teknologi smart card sangat mudah, jika ada bagian yang berwarna keemasan atau silver dengan kaki-kaki sebagai jalur penghubung dengan dunia luar, maka berarti kartu tersebut telah menggunakan teknologi smart card. Karakter fisik dari smart card berdasarkan standar ISO 7816 sebagaimana Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Karakter fisik smart card
Sebagaiman telah penulis singgung di atas, bahwasanya smart card memiliki kaki yang berfungsi menghubungkannya dengan dunia luar. Kaki-kaki tersebut, memiliki fungsi sendiri-sendiri, fungsi ke delapan kaki tersebut dijelaskan oleh Gambar 3. Berikut.

Gambar 3. Delapan titik kontak smart card dengan dunia luar

Perkembangan teknologi terakhir dari smart card yaitu dimungkinkannya interaksi tanpa kontak langsung (contactless) dengan reader. Teknologi tersebut dikenal dengan nama RFID (Radio Frequency Identification), dimana komunikasi antara kartu dan reader terjadi melalui frekuensi radio.
Pada smart card dengan teknologi kontak langsung dengan reader, prosesnya persis seperti saat kita bertransaksi melalui ATM, dimana reader yang ditanam di ATM membaca informasi yang di kartu ATM yang dimiliki, berikutnya terjadi interaksi antara kartu dan reader. Interaksi tersebut sebagaimana gambar berikut ini.

Gambar 4. Interaksi antara kartu dan reader yang terjadi pada ATM
Secara sederhana, interaksi antara kartu dan reader tersebut ditunjukkan oleh gambar berikut.

Gambar 5. Interaksi antara smart card dan reader
Pada saat terjadi kontak antar smart card dengan reader, maka terjadi proses sebagai berikut: terminal melakukan kontak dan menyalurkan suplai listrik ke dalam chip smart card, kemudian terminal mendeteksi respons dari smart card lalu mengirim byte-byte dalam format tertentu lewat kabel serial.
Berbeda halnya pada smart card dengan teknologi contactless, dimana intekasi terjadi melalui gelombang radio yang dipancarkan oleh smart card, di sini smart card berfungsi sebagai transponder (menerima, memperkuat dan mengirimkan sinyal ). Proses selanjutnya reader yang dilengkapi antena berfungsi untuk menyalurkan sinyal radio ke udara, kemudian di terjadi saling komunikasi melalui gelombang radio tersebut. Interaksi dengan teknologi RFID tersebut sebagaimana Gambar 6 berikut ini.






Gambar 6. Interaksi contactless smart card dengan reader
Detail interaksi antara smart card dengan reader dengan teknologi contactless sebagai berikut.
Ø  Reader mengirimkan gelombang elektromagnetik yang menciptakan medan magnet
Ø  Smart card mengubah medan magnet ini menjadi energi yang akan digunakan sebagai daya bagi sirkuit chip
Ø  Chip kemudian menguatkan gelombang dan mengirimnya kembali ke unit reader yang akan mengubah gelombang baru menjadi data digital yang dapat dibaca
Ø  Smart card akan beroperasi saat berada dalam jarak 3 hingga 10 cm dari unit reader
Ø  Sebagian contactless smart card menggunakan frekuensi radio dan akan beroperasi dari jarak yang lebih jauh.
Teknologi contact smart card yang sesuai dengan standart ISO/IEC 7816 dan teknologi contactless smart card yang sesuai dengan standart ISO/IEC 14443 dan ISO/IEC15693 memiliki kemampuan membaca, menulis dan menyimpan data. Kartu yang menggunakan teknologi ini termasuk peralatan yang memiliki kecerdasan (intelligent devices). Kartu tersebut dapat menyimpan kewenangan, otorisasi dan catatan kehadiran. Kartu tersebut juga dapat menyimpan lebih dari satu PIN dan identitas biometric, serta menawarkan kemampuan untuk melakukan identifikasi dengan banyak cara. Kartu tersebut bukan hanya berfungsi sebagai sebuah penyimpan identitas yang unik, tetapi juga sebuah penyimpan data portable.
2.2 Implementasi Smart card di Indonesia
Di Indonesia, aplikasi smart card sendiri dikembangkan oleh vendor untuk kebutuhan bisnis. Umumnya aplikasi smart card dikembangkan oleh sektor keuangan, namun ada juga beberapa institusi yang telah mengembangkan sendiri, aplikasi smart card ini, untuk mengelola data bisnisnya. Sebagai contoh, ada beberapa rumah sakit yang telah mengembangkan aplikasi smart card untuk keperluan rekam medis pasiennya, beberapa perusahaan telah menggunakan teknologi smart card untuk mengontrol kehadiran stafnya.
Saat ini, aplikasi smart card sudah coba dikembangkan oleh beberapa institusi pemerintah/swasta, untuk mendukung pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Namun jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi informasi lain, perkembangan teknologi smart card di Indonesia, termasuk lambat. Lambatnya perkembangan tersebut, salah satunya disebabkan oleh penguasaan teknologi smart card yang masih terbatas. Ini bisa jadi merupakan strategi komersialisasi smart card yang diterapkan oleh para vendor yang tidak ingin membagi pengetahuan yang mereka miliki secara cuma-cuma.
Salah satu aplikasi smart card yang memiliki kemajuan adalah one stop travel service melalui travel card. Dimana aplikasi ini memungkinkan transaksi perjalanan mulai dari pemesanan tiket pesawat, reservasi hotel, pembayaran tagihan handphone, shoping, dan pemesanan kendaraan dilakukan melalui satu kartu. Berikut adalah gambaran aplikasi travel card.


Gambar 7. Aplikasi Travel Card
Saat ini Indonesia tengah mengembangkan program e-KTP, besar harapan masyarakat bahwasanya program ini bukan hanya sekedar merubah KTP yang kita miliki sekarang menjadi KTP elektronik, atau sekedar untuk mendatabasekan data  kependudukan.
Walaupun masyarakat sendiri kurang memahami tujuan akhir dari e-KTP, apa sebenarnya diinginkan oleh pemerintah dengan e-KTP tersebut, namun praktisi yang bergerak di bidang pengembangan teknologi informasi berharap e-KTP tersebut dapat dipergunakan sebagai single sign on untuk melakukan transaksi ataupun untuk memperoleh pelayanan di pemerintahan/swasta.
Teknologi smart card jika diterapkan pada e-KTP, dapat digunakan sebagai cara untuk mengautentifikasi terkait penggunaan single sign on untuk melakukan transaksi ataupun untuk memperoleh pelayanan dari pemerintah/swasta, namun hal tersebut perlu pengkajian lebih jauh akan  implikasi yang mungkin timbul. Jika e-KTP digunakan sebagai kartu yang sifatnya muti fungsi dengan teknologi single sign on, maka dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, pihak perbankan, pihak ke tiga yang melakukan penalangan dana transaksi sementara, dan sektor penyedia produk/jasa. Dan dibutuhkan aplikasi yang dapat mengakomodasi kebutuhan lintas platform, yang tentunya bukan merupakan hal yang mudah.
Beberapa vendor saat ini telah mengembangkan aplikasi smart card, sebagai sistem kontrol piranti yang diproduksinya, aplikasi smart card tersebut digunakan untuk mengetahui kinerja dari piranti tersebut dan sebagai informasi historis. Dengan modal informasi historis tersebut, nantinya akan dikembangkan piranti baru yang akan menutupi celah kelemahan dari piranti pendahulunya, ini juga merupakan sebuah strategi bisnis pihak produsen piranti tersebut.
2.3 Implementasi Teknologi Smart card di Dunia Pendidikan
Keunggulan utama smart card, data yang disimpan dapat diakses secara cepat dan reliable. Dalam bidang pendidikan, smart card telah diimplementasikan untuk penyimpanan data mahasiswa, baik data pribadi maupun data hasil studi dalam jumlah yang terbatas. Saat ini telah terdapat dua teknik yang dikembangkan untuk mengefisienkan penyimpanan data pada smart card, yaitu penggunaan flat file serta penggunaan XML. Kedua teknik tersebut masih belum mempertimbangkan teknik kompresi pada saat penyimpanan data ke smart card. Teknik kompresi XML juga telah banyak dikembangkan, namun belum spesifik terhadap data akademik yang mempunyai tipe data tertentu.
Penulis berharap, teknologi smart card ini dapat dikembangkan lebih lanjut pada bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi sebagai media kontrol dan evaluasi pada semua aspek pendidikan tersebut, mulai dari pengontrol kehadiran, layanan yang paling sering di akses oleh mahasiswa, kontrol pelaksanaan kegiatan perkuliahan, kontrol pemanfaatan fasilitas fisik, kontrol financial, hingga penerapannya untuk mengontol penggunaan resource guna mewujudkan kualitas dan efisiensi di setiap lini baik yang digunakan oleh mahasiswa, tenaga pendidik, maupun tenaga kependidikan.
Dengan implementasi teknologi smart card pada pendidikan tinggi tersebut, akan terbentuk historis data/informasi yang dapat dipergunakan oleh institusi dalam menyusun rencana dan pengembangan institusi ke depan. Historis data/informasi tersebut dapat dipergunakan oleh pimpinan perguruan tinggi, untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang rill dan memiliki korelasi dengan kondisi di lapangan.
Aplikasi yang telah diimplementasikan di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dibeberapa tempat, yaitu melalui apa yang disebut dengan Student Card, dimana dengan menggunakan kartu ini, seorang mahasiswa atau dosen akan mendapatkan banyak kemudahan. Ketika berada di kantin, mahasiswa atau dosen dapat menggunakan kartu ini sebagai kartu pembayaran, kartu ini juga dapat dipergunakan ketika registrasi ulang, pembayaran SPP atau semester pendek. Disamping hal tersebut, fungsi utama kartu ini yaitu sebagai kartu identitas mahasiswa atau kartu mahasiswa. Sebagai kartu identitas, kartu ini dapat digunakan sebagai kartu akses keamanan ketika mahasiswa memasuki ruang praktikum, bahkan sebagai kartu absensi ketika memasuki ruang kuliah. Selain itu kartu ini dapat digunakan sebagai kartu telepon dan kartu belanja di supermarket kampus atau koperasi.
Saat ini, UGM sendiri dari informasi yang penulis peroleh sedang mengembangkan smart card untuk transaksi guna memperoleh layanan public transportation service yang disediakan oleh Pemda Daerah Istimewa Jogyakarta (Trans Jogya). Apakah pengembangannya menggunakan contact smart card atau contacless smart card, penulis belum mengetahui detailnya. Jika hal tersebut dapat terealisasi, ada baiknya UGM melihat bagaimana program bus smart yang sifatnya menyeluruh dengan smart card yang telah dilakukan oleh Pemerintah Ottawa sebagaimana Gambar 8. Berikut.


Gambar 8. Program smart bus di Ottawa - Canada

Jadi, contactlesss mart card di pasang pada bus, sebagai detektor untuk mengetahui keberadaan bus tersebut, yang kemudian digunakan untuk meng-update schedule dan informasi bagi penumpang pada terminal/terminal transit. Sistem tersebut juga dapat mengidentifikasi jika bus tersebut mengalami kerusakan, dan posisi yang tepat untuk mengirimkan tenaga mekanik ke lokasi tersebut.
Dari sisi customer, proses yang terjadi secara sederhana dapat digambarkan sebagaimana berikut ini.


Gambar 9. Ilustrasi proses dari sisi customer pada teknologi contactless smart card
Banyak bidang yang dapat dikembangkan untuk implementasi smart card ini, namun hingga saat ini setiap lembaga baik pemerintah ataupun swasta, mengembangkan sendiri teknologi smart card sesuai dengan proses bisnisnya, jadi secara keseluruhan belum ada institusi yang mencoba mengimplementasikan teknologi smart card ini, untuk dapat dipergunakan untuk memperoleh pelayanan dari sektor pemerintah/swasta. Ini merupakan peluang yang menurut penulis perlu dikembangkan, khususnya oleh pendidikan tinggi yang dapat menjembatani sektor swasta dan pemerintah.
2.4 Pertimbangan-pertimbangan dalam Penerapan Teknologi Smart card
2.4.1 Sistem Keamanan Smart card
Hingga saat ini, pemanfaatan smart card sebagai sarana transaksi di Indonesia masih sangat kecil jumlahnya, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 241 juta jiwa lebih. Namun, hal tersebut terjadi karena minimnya pengetahuan yang ditransfer dan disosialisasikan vendor kepada end user terkait bagaimana mengamankan smart card tersebut dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab, sebagai bentuk tindakan preventif sebelum timbul kerugian pada pihak end user.

Smart card sendiri telah dibekali dengan kriptografi secara hardware dengan menggunakan algoritma enkripsi (misalnya RSA, DSA, dan lain-lain) yang menghasilkan key unik. Hal ini menyebabkan smart card tidak dapat diduplikasi dengan mudah. Melalui kemasan yang baik pada kartu, data pada chip juga dapat dilindungi sehingga tahan terhadap debu dan air. Proses, enkode pada smart card sebagaimana Gambar 10 berikut.

Gambar 10. Proses encode contactless smart card
Teknologi contactless smart card membutuhkan tingkat keamanan yang lebih tinggi, dibanding teknologi contact smart card. Hal tersebut dikarenakan keunggulan tracking yang dihasilkan oleh tag RFID dapat berpotensi terbaca secara luas sehingga dimungkinkan pihak lain mengetahui lokasi yang mungkin bersifat privat atau rahasia, baik dalam kaitannya dengan kepentingan keamanan individu, perusahaan, atau militer.
Kekhawatiran dari owner sendiri akan persoalan keamanan yang ditimbulkan dari smart card sendiri, sebenarnya dapat dikurangi jika mengetahui bahwa smart card memiliki sistem yang digunakan untuk menghindari pemalsuan kartu, penggunaan kartu diluar kewenangannya dan menghindarkan pemakaian kartu dari orang yang tidak berhak. Smart card memiliki berbagai macam kemampuan, baik berupa software dan hardware yang dapat mendeteksi dan bereaksi terhadap kemungkinan pemalsuan dan dapat meng-counter serangan yang mungkin dilakukan pihak luar.
Pada smart card terdapat sensor-sensor terhadap voltase, frekuensi, cahaya dan temperatur. Filter yang memakai sistem clock, pengacakan memori, catu daya yang konstan dan perancangan chip yang bagus merupakan metode yang dapat digunakan untuk menghindari analisa secara visual, micro probing atau manipulasi chip. Jika smart card akan digunakan untuk melakukan verifikasi identitas secara manual, dapat ditambahkan kemampuan pengamanannya pada smart card tersebut, seperti:
a.        pengunaan jenis huruf yang khas,
b.        pembedaan warna tinta dan penggunaan warna yang beragam,
c.         micro printing system,
d.       penggunaan tinta ultra violet yang berkualitas tinggi,
e.        gambar yang tersamarkan yang merupakan foto kedua dari owner yang dapat diletakkan pada tempat lain dalam kartu,
f.          penggunaan hologram yang berlapis-lapis, dan
g.        penggunaan gambar tiga dimensi.
Jika kartu dirancang dan diimplementasikan dengan tepat, smart card hampir tidak mungkin di duplikasi atau dipalsukan, dan data yang tersimpan didalam chip tidak akan dapat dimodifikasi tanpa otorisasi yang jelas, dimana otorisasi biasanya menggunakan password, otentifikasi biometric, atau kunci akses menggunakan cryptograpi. Selama sistem yang diimplementasikan memiliki kebijakan keamanan yang efektif, dan diikuti dengan layanan keamanan sebagai unsur penting yang disediakan oleh smart card, organisasi dan owner akan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terkait integritas kartu identitasnya dan keamanan dalam penggunaannya.
2.4.2 Privasi
Selain pertimbangan dari sisi keamanan, contactless smart card juga memungkinkan privasi pribadi menjadi terganggu, karena keunggulan tracking yang dihasilkan oleh RFID, sehingga aktifitas owner terkait hal-hal yang bersifat pribadi dapat direkam oleh reader selama contactless smart card tersebut melekat padanya.
Tag RFID yang berupa sirkuit semikonduktor nirkabel terintegrasi yang menyimpan nomor ID dimemorynya, dan mentrasmisikan ID yang dapat digunakan untuk mengakses informasi database yang terhubung secara instan melalui browser. Perangkat yang ukurannya hampir sebesar debu tersebut (0,44 mm persegi), dengan nomor ID unik dapat mengidentifikasi triliunan benda tanpa duplikasi,  sehingga dapat dipergunakan untuk melacak keberadaan suatu benda. Ukurannya yang kecil, membuat piranti ini dapat ditempelkan kemanapun, bahkan pada seseorang tanpa sepengetahuannya.
Masalah privasi menjadi isu yang harus dipertimbangkan pada tingkat pemrograman/coding. Negara Uni Eropa menilai RFID merupakan teknologi yang sangat canggih untuk diterapkan jika mengabaikan masalah  privasi. Argumennya, yaitu kemampuan teknologi ini melacak keberadaan suatu benda tak dapat dihindarkan, karena pertimbangan data mining dan logika hubungan yang dapat ditarik melalui RFID. Jelas bahwa disini mereka tidak memposisikan diri sebagai  pihak yang menjadi killer aplikasi RFID tersebut, namun aplikasi smart connectivity itu sendiri yang pada akhirnya menjadi pembunuh teknologi RFID. Gambar berikut, ilustrasi kemampuan contactless smart card/RFID untuk mengidentifikasi keberadaan suatu benda.


Gambar 11. Kemampuan RFID dalam mengidentifikasi keberadaan suatu benda
Kekhawatiran, akan privasi yang akan hilang terkait penggunaan teknologi ini sebenarnya dapat diminimalkan dengan mengedepankan manfaat yang akan diperoleh dengan penerapan teknologi ini. Contoh sederhananya, jika teknologi ini dipasang di handphone, maka jika handphone tersebut hilang atau dicuri oleh seseorang, keberadaannya dapat dilacak pada saat sinyalnya terbaca oleh reader, dengan demikian dapat diketahui posisinya, atau bahkan ditemukan siapa yang telah mencuri handphone tersebut, karena ia dipasang di handphone, dan bukan di SIM card, disini smart card tak bisa dilepaskan dari handphone tersebut karena ia merupakan satu paket sebagai sistem identifikasi. Dengan kondisi kemanan dan keselamatan yang semakin mengkhawatirkan saat ini, teknologi contactless smart card ini merupakan sebuah solusi yang perlu dipertimbangkan, karena dapat mengirimkan informasi secara cepat kepada pihak berwenang, untuk memperoleh bantuan. Hal tersebut tentu saja jika kita sepakat bahwa persoalan keamanan itu lebih penting dari privasi.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Jika kita mengetahui suatu teknogi bukan hanya dari sisi manfaat yang diperoleh, tetapi seluruh aspek yang berhubungan dengan hal tersebut, maka pengetahuan tersebut dapat menghindarkan diri, menjadi korban teknologi tersebut. Penulis menyadari bahwa, hingga saat ini masih banyak orang yang memilih transaksi menggunakan magnetic card dari pada smart card, karena minimnya informasi yang dishare oleh penerbit kartu tersebut untuk memperoleh manfaat optimal dan bagaimana sistem keamanannya.
Saat customer mengetahui bahwasanya smart card ternyata memiliki sistem keamanan yang tangguh, jika dibandingkan dengan magnetic card maka mayoritas customer penulis pastikan akan memilih smart card, khususnya smart card dengan teknologi kontak langsung (contact smart card) karena ia lebih aman dari pada yang menggunakan teknologi contactless smart card/RFID.
Implementasi teknologi smart card ini akan memberi manusia banyak kemudahan, bahkan dapat berfungsi sebagai body guard yang tak dapat saat ini tak dapat dilakukan oleh aparat, dengan syarat orang tersebut siap mengorbankan bagian privasi dirinya yang akan menjadi bagian dalam membangun logika penghubung antara data mining dan RFID tersebut.
3.2 Saran
Kepedulian setiap orang, akan teknologi yang dimilikinya merupakan tuntutan, jika ia tak ingin menjadi korban dari perkembangan teknologi tersebut. Harusnya setiap kita menjadi lebih aware akan teknologi yang kita gunakan, sehingga optimasi dalam pemanfaatannya dapat diperoleh. Dengan pengetahuan yang kita miliki tersebut, kita akan terhindar dari korban teknologi itu sendiri. Jika tidak demikian niscaya, kita akan was-was untuk menggunakan teknologi tersebut, walaupun sebenarnya teknologinya sendiri sudah amat memeperhatikan masalah keamanan bagi usernya.
Teknologi contactless smart card, sebaiknya dikembangkan dan diterapkan diperguruan tinggi, karena dengan teknologi ini akan banyak kemudahan, bahkan akan memunculkan kreatifitas dan inovasi baru untuk pengembangannya lebih lanjut. Manfaat yang dirasakan dengan penerapan teknolgi ini antara lain efisiensi sdm, waktu dan biaya untuk penyediaan layanan bagi sivitas akademik. Bahkan dengan teknologi ini, dapat diidentifikasi lulusan sebuah perguruan tinggi tersebut mengelompok di daerah mana saja, bidang kerja apa saja, tanpa mengadakan tracer study, dengan syarat ada komitmen yang dibangun antara lembaga pendidikan denga alumninya, untuk tetap menjadikan smart card tersebut bagian dari identifikasi dirinya oleh lembaga.
  
DAFTAR PUSTAKA


Alisyahbana, Iskandar. (1980). Teknologi dan Perkembangan. Jakarta: Yayasan Idayu.
ISO/IEC, ISO/IEC 7816: Integrated Circuit(s) Cards with Contacts
Kranenburg, Rob van. (2006). HowTo: The Will to Organize. Leonardo, 4(39), 305-309.
Lenoir, Timothy. (2002). Makeover: Writing the Body into the Posthuman Technoscape: Part One: Embracing the Posthuman. Configurations, 2(10), 203-220.
Access from: http://onno.vlsm.org%2Fv11%2Fref-ind-1%2Fphysical%2Fteknologi-smartcard-dan-impian-masa-depan-10-2001.rtf&ei=-liZT6jjBoPtrQfEwYGyAQ&usg=AFQjCNEGpE0tM3jcovHaowNQW8zDaLPe4g&cad=rja by Sri Mulyani at 26 April 2012 21:39 WIB
Access from:  http://lukmanmikrodata.blogspot.com/2012/04/teknologi-smartcard-dan-impian-di-masa.html by Sri Mulyani at 26 April 2012 13:49 WIB
Access from http://www.rfidjournal.com/article/purchase/7917 by Sri Mulyani at 9 Mei 2012 05:30 WIB