ABSTRAK
Smart
card merupakan teknologi informasi yang memiliki kemampuan melacak dan membaca
data/benda secara cepat, hanya saja pengembangan aplikasinya sendiri masih
terbatas, dimana setiap lembaga mengembangkan aplikasinya sendiri
sesuai dengan proses bisnisnya. Jika kita pemerintah berkeinginan untuk membuat
sebuah sistem dengan tujuan melayani masyarakat secara luas, teknologi smart
card ini dapat diimplementasikan pada program e-KTP yang saat ini tengah
berjalan, apakah teknologi yang akan digunakan berupa contact smart card
ataupun contactless smart card. Jadi program e-KTP tersebut tidak terkesan
seperti mendatabasekan data kependudukan.
Untuk membahas teknologi smart card ini, penulis
melakukan kajian pustaka terhadap implementasi teknologi smart card, baik dari
sisi keuntungan, kelemahan, celah keamanan, bagaimana jika hal tersebut diterap pada suatu lembaga, khususnya pada proses
pendidikan di perguruan tinggi. Penulis meng-collect informasi dan pengetahuan
dari sumber berupa jurnal, maupun sumber dari internet,dan mencoba
menceritakannya kembali kepada pembaca terkait teknologi smart card ini, baik
contact smart card ataupun contactless smart card dengan menggunakan teknologi
RFID (Radio
Frequency Identification).
Dari,
hasil kajian yang penulis lakukan dapat penulis kemukakan bahwasanya, kurang
awarenya user untuk menggali informasi dan pengetahuan, dari perkembangan
teknologi yang bahkan telah dipergunakan secara luas, sering menjebak user pada
posisi menjadi korban kemajuan teknologi tersebut, disamping kurangnya
sosialisasi dari pihak pengembang. Teknologi ini sebenarnya telah digunakan
oleh banyak orang, karena teknologi ini telah diterapkan pada SIM card
handphone, hanya saja user tidak aware akan hal tersebut. User yang cerdas
seharusnya menggali informasi, akan teknologi yang digunakannya, untuk
memperoleh manfaat optimal, dan menghindarkan dirinya menjadi korban teknologi
tersebut.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknologi informasi, disadari atau tidak
perkembangannya bukan hanya dinikmati oleh masyarakat yang berada di perkotaan,
namun telah jauh menyentuh daerah yang lebih jauh dari kehidupan perkotaan,
dimana masyarakat pelosok dan pedesaan berada. Walaupun dengan infrastruktur
teknologi informasi yang masih terbatas, namun masyarakat pelosok dan pedesaan
telah menikmati perkembangan teknologi informasi tersebut.
Teknologi sendiri telah dikenal oleh manusia
semenjak jutaan tahun yang lalu karena adanya dorongan hidup untuk lebih
nyaman, lebih makmur, dan lebih sejahtera (Alisyahbana, 1980). Tak dapat
dipungkiri, perkembangan teknologi yang pesat khususnya teknologi informasi
sudah merubah perilaku bahkan budaya manusia saat ini.
Informasi yang up to date sebagai dampak globalisasi, dapat dinikmati setiap orang
berkat kemajuan dan perkembangan yang terjadi pada teknologi informasi. Bahkan
kita dapat memperoleh informasi di belahan dunia lain, yang terbaru tanpa
bergerak dari kursi yang diduduki.
Kemajuan teknologi informasi, ibarat dua sisi
mata uang membawa nilai positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Disadari
atau tidak perilaku dan budaya manusia perlahan-lahan mulai bergeser, akibat
pengaruh perkembangan teknologi informasi tersebut.
Penulis sendiri tidak akan membahas masalah
pengaruh perkembangan teknologi informasi tersebut terhadap perilaku dan
budaya, namun lebih pada implementasi teknologi informasi itu sendiri yang
begitu dekat dan dipergunakan setiap hari, namun kita tidak menyadarinya karena
kurang aware-nya kita terhadap
perkembangan teknologi informasi itu sendiri.
Dalam hitungan detik, sebuah teknologi informasi
baru ditemukan dibelahan dunia, hanya saja butuh waktu yang cukup lama untuk
dapat dinikmati oleh end user,
khususnya di Indonesia.
Salah satu teknologi yang begitu dekat dengan
keseharian kita dan sering kita gunakan adalah smart card. Smart card istilah
yang mungkin asing ditelinga sebagian orang, namun jika kita menyebutkan
istilah SIM Card, hampir semua orang mengetahui
bahwa itu adalah kartu yang dipakai sebagai piranti akses pada handphone. SIM Card, merupakan salah satu piranti
yang dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat bahkan hingga ke pelosok negeri,
yang menggunakan teknologi smart card
walaupun dengan kemampuan yang masih terbatas.
Selama ini kita tidak aware dengan keberadaan teknologi tersebut, berikut implikasinya
keseharian yang kita jalani. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 241
juta jiwa membutuhkan implementasi teknologi informasi dalam manajemennya.
Walaupun saat ini tengah dikembang sistem
kependudukan berbasis elektronik, namun pengelolaannya seperti apa, masyarakat
belum tahu. Apakah hanya sekedar mengubah proses KTP manual menjadi elektronik,
atau lebih dari pada itu, saat ini masyarakat luas sedang menunggu.
1.2 Masalah
Berangkat dari persoalan ke kurang pedulian
mayoritas end user, terhadap teknologi informasi yang digunakan,
baik dari teknologinya sendiri, manfaat yang diperoleh, dan resiko yang harus
dihadapi oleh user. Hal tersebut
penting, karena jangan sampai kita sebagai end
user, tak mampu mengoptimasi teknologi informasi yang kita miliki, dan termasuk
dalam kategori user yang menjadi
korban teknologi.
1.3 Tujuan
Melalui tulisan ini penulis berharap, dapat
membangun kepedulian pada end user
akan teknologi yang dipergunakannya agar tidak menjadi korban perkembangan
teknologi informasi tersebut.
1.4 Manfaat
Melalui informasi yang coba penulis sampaikan
dalam tulisan ini, penulis berharap end
user akan lebih aware akan teknologi
informasi yang dimanfaatkannya, guna menghindarkan end user dari akses-akses negatif teknologi informasi tersebut.
1.5 Metode
Penulis menggunakan metode kajian literatur,
untuk mengungkapkan hal yang ingin penulis sampaikan terkait persoalan yang
telah penulis jelaskan di atas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Smart card
Indonesia merupakan jumlah pengguna handphone
terbanyak ke empat di dunia setelah RRC, India, dan USA, namun jumlah user yang
aware akan teknologi yang mereka gunakan masih sangat kecil. Sebagai contoh
kecil, banyak pengguna handphone di Indonesia yang tidak mengetahui bahwa SIM
card yang mereka gunakan di handphone-nya merupakan teknologi smart card.
Jika diperhatikan dengan seksama SIM Card handphone di belakangnya, ada
bagian yang biasanya berwarna keemasan atau silver
sebagaimana gambar berikut.
Gambar 1. Ukuran dan Komponen
Smart card
Selama ini mungkin tidak semua orang menyadari
bahwa teknologi ini telah kita miliki dan pergunakan dalam keseharian kita,
karena biasanya pemikiran kita terkungkung bahwasanya teknologi ini
diimplementasikan untuk kebutuhan yang rumit dengan spesifikasi kegiatan
khusus. Namun, pada kenyataannya jika kita aware,
ternyata teknologi ini sudah kita manfaatkan dalam keseharian kita.
Teknologi smart
card ini sudah diimplementasikan pada beberapa jenis kartu kredit, dan
kartu ATM. Identifikasi penggunaan teknologi smart card sangat mudah, jika ada bagian yang berwarna keemasan
atau silver dengan kaki-kaki sebagai jalur penghubung dengan dunia luar, maka
berarti kartu tersebut telah menggunakan teknologi smart card. Karakter
fisik dari smart card berdasarkan
standar ISO 7816 sebagaimana Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Karakter fisik smart card
Sebagaiman telah penulis singgung di atas,
bahwasanya smart card memiliki kaki
yang berfungsi menghubungkannya dengan dunia luar. Kaki-kaki tersebut, memiliki
fungsi sendiri-sendiri, fungsi ke delapan kaki tersebut dijelaskan oleh Gambar
3. Berikut.
Gambar 3. Delapan titik
kontak smart card dengan dunia luar
Perkembangan teknologi terakhir dari smart card yaitu dimungkinkannya
interaksi tanpa kontak langsung (contactless)
dengan reader. Teknologi tersebut
dikenal dengan nama RFID (Radio
Frequency Identification), dimana
komunikasi antara kartu dan reader terjadi melalui frekuensi radio.
Pada smart
card dengan teknologi kontak langsung dengan reader, prosesnya persis seperti saat kita bertransaksi melalui
ATM, dimana reader yang ditanam di
ATM membaca informasi yang di kartu ATM yang dimiliki, berikutnya terjadi
interaksi antara kartu dan reader.
Interaksi tersebut sebagaimana gambar berikut ini.
Gambar 4. Interaksi antara
kartu dan reader yang terjadi pada
ATM
Secara sederhana, interaksi antara kartu dan
reader tersebut ditunjukkan oleh gambar berikut.
Gambar 5. Interaksi antara smart card dan reader
Pada saat terjadi kontak
antar smart card dengan reader, maka terjadi proses sebagai
berikut: terminal
melakukan kontak dan menyalurkan suplai listrik ke dalam chip smart card, kemudian terminal mendeteksi
respons dari smart card lalu mengirim
byte-byte dalam format tertentu lewat kabel serial.
Berbeda halnya pada smart card dengan teknologi contactless,
dimana intekasi terjadi melalui gelombang radio yang dipancarkan oleh smart card, di sini smart card berfungsi sebagai transponder (menerima,
memperkuat dan mengirimkan sinyal ). Proses selanjutnya reader yang dilengkapi antena
berfungsi untuk menyalurkan sinyal radio ke udara, kemudian di terjadi saling
komunikasi melalui gelombang radio tersebut. Interaksi dengan teknologi RFID
tersebut sebagaimana Gambar 6 berikut ini.
Gambar 6. Interaksi contactless smart card dengan reader
Detail interaksi antara smart card dengan reader
dengan teknologi contactless sebagai
berikut.
Ø
Reader mengirimkan gelombang
elektromagnetik yang menciptakan medan magnet
Ø
Smart card mengubah medan magnet ini
menjadi energi yang akan digunakan sebagai daya bagi sirkuit chip
Ø
Chip kemudian menguatkan gelombang
dan mengirimnya kembali ke unit reader yang
akan mengubah gelombang baru menjadi data digital yang dapat dibaca
Ø
Smart card akan beroperasi saat berada
dalam jarak 3 hingga 10 cm dari unit reader
Ø
Sebagian
contactless smart card menggunakan
frekuensi radio dan akan beroperasi dari jarak yang lebih jauh.
Teknologi contact smart card yang sesuai dengan standart ISO/IEC 7816 dan
teknologi contactless smart card yang
sesuai dengan standart ISO/IEC 14443 dan ISO/IEC15693 memiliki kemampuan
membaca, menulis dan menyimpan data. Kartu yang menggunakan teknologi ini
termasuk peralatan yang memiliki kecerdasan (intelligent devices). Kartu tersebut dapat menyimpan kewenangan,
otorisasi dan catatan kehadiran. Kartu tersebut juga dapat menyimpan lebih dari
satu PIN dan identitas biometric, serta menawarkan kemampuan untuk melakukan
identifikasi dengan banyak cara. Kartu tersebut bukan hanya berfungsi sebagai sebuah
penyimpan identitas yang unik, tetapi juga sebuah penyimpan data portable.
2.2 Implementasi Smart card di
Indonesia
Di Indonesia, aplikasi smart card sendiri dikembangkan oleh vendor untuk kebutuhan bisnis. Umumnya aplikasi smart card dikembangkan oleh sektor
keuangan, namun ada juga beberapa institusi yang telah mengembangkan sendiri,
aplikasi smart card ini, untuk
mengelola data bisnisnya. Sebagai contoh, ada beberapa rumah sakit yang telah
mengembangkan aplikasi smart card
untuk keperluan rekam medis pasiennya, beberapa perusahaan telah menggunakan
teknologi smart card untuk mengontrol
kehadiran stafnya.
Saat ini, aplikasi smart card sudah coba dikembangkan oleh beberapa institusi
pemerintah/swasta, untuk mendukung pelayanan yang diberikan kepada konsumen.
Namun jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi informasi lain,
perkembangan teknologi smart card di
Indonesia, termasuk lambat. Lambatnya perkembangan tersebut, salah satunya
disebabkan oleh penguasaan teknologi smart
card yang masih terbatas. Ini bisa jadi merupakan strategi komersialisasi smart card yang diterapkan oleh para vendor yang tidak ingin membagi
pengetahuan yang mereka miliki secara cuma-cuma.
Salah satu aplikasi smart card yang memiliki kemajuan adalah one stop travel service melalui travel
card. Dimana aplikasi ini memungkinkan transaksi perjalanan mulai dari
pemesanan tiket pesawat, reservasi hotel, pembayaran tagihan handphone,
shoping, dan pemesanan kendaraan dilakukan melalui satu kartu. Berikut adalah
gambaran aplikasi travel card.
Gambar 7. Aplikasi Travel Card
Saat ini Indonesia tengah mengembangkan program
e-KTP, besar harapan masyarakat bahwasanya program ini bukan hanya sekedar
merubah KTP yang kita miliki sekarang menjadi KTP elektronik, atau sekedar
untuk mendatabasekan data kependudukan.
Walaupun masyarakat sendiri kurang memahami
tujuan akhir dari e-KTP, apa sebenarnya diinginkan oleh pemerintah dengan e-KTP
tersebut, namun praktisi yang bergerak di bidang pengembangan teknologi
informasi berharap e-KTP tersebut dapat dipergunakan sebagai single sign on untuk melakukan transaksi
ataupun untuk memperoleh pelayanan di pemerintahan/swasta.
Teknologi smart
card jika diterapkan pada e-KTP, dapat digunakan sebagai cara untuk mengautentifikasi
terkait penggunaan single sign on untuk
melakukan transaksi ataupun untuk memperoleh pelayanan dari pemerintah/swasta,
namun hal tersebut perlu pengkajian lebih jauh akan implikasi yang mungkin timbul. Jika e-KTP
digunakan sebagai kartu yang sifatnya muti fungsi dengan teknologi single sign on, maka dibutuhkan
kerjasama antara pemerintah, pihak perbankan, pihak ke tiga yang melakukan
penalangan dana transaksi sementara, dan sektor penyedia produk/jasa. Dan
dibutuhkan aplikasi yang dapat mengakomodasi kebutuhan lintas platform, yang
tentunya bukan merupakan hal yang mudah.
Beberapa vendor
saat ini telah mengembangkan aplikasi smart
card, sebagai sistem kontrol piranti yang diproduksinya, aplikasi smart card tersebut digunakan untuk mengetahui
kinerja dari piranti tersebut dan sebagai informasi historis. Dengan modal
informasi historis tersebut, nantinya akan dikembangkan piranti baru yang akan
menutupi celah kelemahan dari piranti pendahulunya, ini juga merupakan sebuah
strategi bisnis pihak produsen piranti tersebut.
2.3
Implementasi Teknologi Smart card di
Dunia Pendidikan
Keunggulan
utama smart card, data yang disimpan
dapat diakses secara cepat dan reliable. Dalam bidang pendidikan, smart card telah diimplementasikan untuk
penyimpanan data mahasiswa, baik data pribadi maupun data hasil studi dalam
jumlah yang terbatas. Saat ini telah terdapat dua teknik yang dikembangkan
untuk mengefisienkan penyimpanan data pada smart
card, yaitu penggunaan flat file
serta penggunaan XML. Kedua teknik tersebut masih belum mempertimbangkan teknik
kompresi pada saat penyimpanan data ke smart
card. Teknik kompresi XML juga telah banyak dikembangkan, namun belum
spesifik terhadap data akademik yang mempunyai tipe data tertentu.
Penulis
berharap, teknologi smart card ini dapat
dikembangkan lebih lanjut pada bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi
sebagai media kontrol dan evaluasi pada semua aspek pendidikan tersebut, mulai
dari pengontrol kehadiran, layanan yang paling sering di akses oleh mahasiswa,
kontrol pelaksanaan kegiatan perkuliahan, kontrol pemanfaatan fasilitas fisik,
kontrol financial, hingga penerapannya untuk mengontol penggunaan resource guna
mewujudkan kualitas dan efisiensi di setiap lini baik yang digunakan oleh
mahasiswa, tenaga pendidik, maupun tenaga kependidikan.
Dengan
implementasi teknologi smart card pada
pendidikan tinggi tersebut, akan terbentuk historis data/informasi yang dapat
dipergunakan oleh institusi dalam menyusun rencana dan pengembangan institusi
ke depan. Historis data/informasi tersebut dapat dipergunakan oleh pimpinan
perguruan tinggi, untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang rill dan memiliki
korelasi dengan kondisi di lapangan.
Aplikasi
yang telah diimplementasikan di dunia pendidikan, khususnya
pendidikan tinggi dibeberapa tempat, yaitu melalui apa yang disebut dengan Student Card, dimana dengan menggunakan kartu ini, seorang
mahasiswa atau dosen akan mendapatkan banyak kemudahan. Ketika berada di
kantin, mahasiswa atau dosen dapat menggunakan kartu ini sebagai kartu
pembayaran, kartu ini juga dapat dipergunakan ketika
registrasi ulang, pembayaran SPP atau semester pendek. Disamping hal tersebut, fungsi utama kartu ini yaitu sebagai kartu identitas mahasiswa atau kartu mahasiswa.
Sebagai kartu identitas, kartu ini dapat digunakan sebagai kartu akses keamanan
ketika mahasiswa memasuki ruang praktikum, bahkan sebagai kartu absensi ketika
memasuki ruang kuliah. Selain itu kartu ini dapat digunakan sebagai kartu
telepon dan kartu belanja di supermarket kampus atau koperasi.
Saat ini, UGM sendiri dari informasi yang penulis peroleh sedang
mengembangkan smart card untuk
transaksi guna memperoleh layanan public
transportation service yang disediakan oleh Pemda Daerah Istimewa
Jogyakarta (Trans Jogya). Apakah pengembangannya menggunakan contact smart card atau contacless smart card, penulis belum mengetahui
detailnya. Jika hal tersebut dapat terealisasi, ada baiknya UGM melihat
bagaimana program bus smart yang
sifatnya menyeluruh dengan smart card
yang telah dilakukan oleh Pemerintah Ottawa sebagaimana Gambar 8. Berikut.
Gambar 8. Program smart bus di Ottawa - Canada
Jadi, contactlesss mart card di pasang pada bus, sebagai detektor untuk
mengetahui keberadaan bus tersebut, yang kemudian digunakan untuk meng-update schedule dan informasi bagi penumpang
pada terminal/terminal transit. Sistem tersebut juga dapat mengidentifikasi
jika bus tersebut mengalami kerusakan, dan posisi yang tepat untuk mengirimkan
tenaga mekanik ke lokasi tersebut.
Dari sisi customer, proses
yang terjadi secara sederhana dapat digambarkan sebagaimana berikut ini.
Gambar 9. Ilustrasi proses dari sisi customer pada teknologi contactless smart card
Banyak
bidang yang dapat dikembangkan untuk implementasi smart card ini, namun hingga saat ini setiap lembaga baik
pemerintah ataupun swasta, mengembangkan sendiri teknologi smart card sesuai dengan proses bisnisnya, jadi secara keseluruhan
belum ada institusi yang mencoba mengimplementasikan teknologi smart card ini, untuk dapat dipergunakan
untuk memperoleh pelayanan dari sektor pemerintah/swasta. Ini merupakan peluang
yang menurut penulis perlu dikembangkan, khususnya oleh pendidikan tinggi yang
dapat menjembatani sektor swasta dan pemerintah.
2.4 Pertimbangan-pertimbangan dalam Penerapan Teknologi Smart card
2.4.1 Sistem Keamanan Smart card
Hingga saat ini, pemanfaatan smart card sebagai sarana transaksi di Indonesia masih sangat kecil
jumlahnya, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah
241 juta jiwa lebih. Namun, hal tersebut terjadi karena minimnya pengetahuan
yang ditransfer dan disosialisasikan vendor
kepada end user terkait bagaimana
mengamankan smart card tersebut dari
tangan-tangan yang tak bertanggung jawab, sebagai bentuk tindakan preventif
sebelum timbul kerugian pada pihak end
user.
Smart card sendiri telah dibekali
dengan kriptografi secara hardware dengan menggunakan algoritma enkripsi
(misalnya RSA, DSA, dan lain-lain) yang menghasilkan key unik. Hal ini
menyebabkan smart card tidak dapat
diduplikasi dengan mudah. Melalui kemasan yang baik pada kartu, data pada chip juga dapat dilindungi sehingga
tahan terhadap debu dan air. Proses, enkode pada smart card sebagaimana Gambar 10 berikut.
Gambar
10. Proses encode contactless smart card
Teknologi contactless
smart card membutuhkan tingkat keamanan yang lebih tinggi, dibanding
teknologi contact smart card. Hal
tersebut dikarenakan keunggulan tracking yang dihasilkan oleh tag RFID dapat berpotensi terbaca
secara luas sehingga dimungkinkan pihak lain mengetahui lokasi yang mungkin
bersifat privat atau rahasia, baik dalam kaitannya dengan kepentingan keamanan
individu, perusahaan, atau militer.
Kekhawatiran
dari owner sendiri akan persoalan
keamanan yang ditimbulkan dari smart card
sendiri, sebenarnya dapat dikurangi jika mengetahui bahwa smart card memiliki sistem yang digunakan untuk menghindari pemalsuan
kartu, penggunaan kartu diluar kewenangannya dan menghindarkan pemakaian kartu
dari orang yang tidak berhak. Smart card
memiliki berbagai macam kemampuan, baik berupa software dan hardware
yang dapat mendeteksi dan bereaksi terhadap kemungkinan pemalsuan dan dapat
meng-counter serangan yang mungkin
dilakukan pihak luar.
Pada
smart card terdapat sensor-sensor
terhadap voltase, frekuensi, cahaya dan temperatur. Filter yang memakai sistem
clock, pengacakan memori, catu daya yang konstan dan perancangan chip yang
bagus merupakan metode yang dapat digunakan untuk menghindari analisa secara
visual, micro probing atau manipulasi
chip. Jika smart card akan digunakan untuk melakukan verifikasi identitas
secara manual, dapat ditambahkan kemampuan pengamanannya pada smart card tersebut, seperti:
a.
pengunaan
jenis huruf yang khas,
b.
pembedaan
warna tinta dan penggunaan warna yang beragam,
c.
micro printing
system,
d. penggunaan tinta ultra violet yang berkualitas
tinggi,
e.
gambar
yang tersamarkan yang merupakan foto kedua dari owner yang dapat diletakkan pada tempat lain dalam kartu,
f.
penggunaan
hologram yang berlapis-lapis, dan
g.
penggunaan
gambar tiga dimensi.
Jika
kartu dirancang dan diimplementasikan dengan tepat, smart card hampir tidak mungkin di duplikasi atau dipalsukan, dan data
yang tersimpan didalam chip tidak akan dapat dimodifikasi tanpa otorisasi yang
jelas, dimana otorisasi biasanya menggunakan password, otentifikasi biometric,
atau kunci akses menggunakan cryptograpi. Selama sistem yang diimplementasikan
memiliki kebijakan keamanan yang efektif, dan diikuti dengan layanan keamanan sebagai
unsur penting yang disediakan oleh smart
card, organisasi dan owner akan
memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terkait integritas kartu identitasnya
dan keamanan dalam penggunaannya.
2.4.2 Privasi
Selain pertimbangan dari sisi keamanan, contactless smart card juga memungkinkan
privasi pribadi menjadi terganggu, karena keunggulan tracking yang dihasilkan oleh RFID, sehingga aktifitas owner terkait hal-hal yang bersifat
pribadi dapat direkam oleh reader selama
contactless smart card tersebut
melekat padanya.
Tag
RFID yang berupa sirkuit semikonduktor nirkabel terintegrasi yang menyimpan
nomor ID dimemorynya, dan mentrasmisikan ID yang dapat digunakan untuk
mengakses informasi database yang terhubung secara instan melalui browser.
Perangkat yang ukurannya hampir sebesar debu tersebut (0,44 mm persegi), dengan
nomor ID unik dapat mengidentifikasi triliunan benda tanpa duplikasi, sehingga dapat dipergunakan untuk melacak
keberadaan suatu benda. Ukurannya yang kecil, membuat piranti ini dapat
ditempelkan kemanapun, bahkan pada seseorang tanpa sepengetahuannya.
Masalah
privasi menjadi isu yang harus dipertimbangkan pada tingkat pemrograman/coding.
Negara Uni Eropa menilai RFID merupakan teknologi yang sangat canggih untuk
diterapkan jika mengabaikan masalah
privasi. Argumennya, yaitu kemampuan teknologi ini melacak keberadaan suatu
benda tak dapat dihindarkan, karena pertimbangan data mining dan logika
hubungan yang dapat ditarik melalui RFID. Jelas bahwa disini mereka tidak
memposisikan diri sebagai pihak yang
menjadi killer aplikasi RFID
tersebut, namun aplikasi smart connectivity itu sendiri yang pada akhirnya
menjadi pembunuh teknologi RFID. Gambar berikut, ilustrasi kemampuan
contactless smart card/RFID untuk
mengidentifikasi keberadaan suatu benda.
Gambar 11. Kemampuan RFID dalam mengidentifikasi keberadaan suatu benda
Kekhawatiran,
akan privasi yang akan hilang terkait penggunaan teknologi ini sebenarnya dapat
diminimalkan dengan mengedepankan manfaat yang akan diperoleh dengan penerapan
teknologi ini. Contoh sederhananya, jika teknologi ini dipasang di handphone,
maka jika handphone tersebut hilang atau dicuri oleh seseorang, keberadaannya
dapat dilacak pada saat sinyalnya terbaca oleh reader, dengan demikian dapat diketahui posisinya, atau bahkan
ditemukan siapa yang telah mencuri handphone tersebut, karena ia dipasang di
handphone, dan bukan di SIM card, disini smart
card tak bisa dilepaskan dari handphone tersebut karena ia merupakan satu
paket sebagai sistem identifikasi. Dengan kondisi kemanan dan keselamatan yang
semakin mengkhawatirkan saat ini, teknologi contactless
smart card ini merupakan sebuah solusi yang perlu dipertimbangkan, karena
dapat mengirimkan informasi secara cepat kepada pihak berwenang, untuk
memperoleh bantuan. Hal tersebut tentu saja jika kita sepakat bahwa persoalan
keamanan itu lebih penting dari privasi.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Jika
kita mengetahui suatu teknogi bukan hanya dari sisi manfaat yang diperoleh,
tetapi seluruh aspek yang berhubungan dengan hal tersebut, maka pengetahuan
tersebut dapat menghindarkan diri, menjadi korban teknologi tersebut. Penulis
menyadari bahwa, hingga saat ini masih banyak orang yang memilih transaksi
menggunakan magnetic card dari pada smart card, karena minimnya informasi
yang dishare oleh penerbit kartu
tersebut untuk memperoleh manfaat optimal dan bagaimana sistem keamanannya.
Saat
customer mengetahui bahwasanya smart card ternyata memiliki sistem
keamanan yang tangguh, jika dibandingkan dengan magnetic card maka mayoritas customer penulis pastikan akan memilih smart card, khususnya smart card dengan teknologi kontak
langsung (contact smart card) karena
ia lebih aman dari pada yang menggunakan teknologi contactless smart card/RFID.
Implementasi
teknologi smart card ini akan memberi
manusia banyak kemudahan, bahkan dapat berfungsi sebagai body guard yang tak dapat saat ini tak dapat dilakukan oleh aparat,
dengan syarat orang tersebut siap mengorbankan bagian privasi dirinya yang akan
menjadi bagian dalam membangun logika penghubung antara data mining dan RFID
tersebut.
3.2 Saran
Kepedulian
setiap orang, akan teknologi yang dimilikinya merupakan tuntutan, jika ia tak
ingin menjadi korban dari perkembangan teknologi tersebut. Harusnya setiap kita
menjadi lebih aware akan teknologi
yang kita gunakan, sehingga optimasi dalam pemanfaatannya dapat diperoleh.
Dengan pengetahuan yang kita miliki tersebut, kita akan terhindar dari korban
teknologi itu sendiri. Jika tidak demikian niscaya, kita akan was-was untuk menggunakan
teknologi tersebut, walaupun sebenarnya teknologinya sendiri sudah amat
memeperhatikan masalah keamanan bagi usernya.
Teknologi
contactless smart card, sebaiknya dikembangkan
dan diterapkan diperguruan tinggi, karena dengan teknologi ini akan banyak
kemudahan, bahkan akan memunculkan kreatifitas dan inovasi baru untuk pengembangannya
lebih lanjut. Manfaat yang dirasakan dengan penerapan teknolgi ini antara lain
efisiensi sdm, waktu dan biaya untuk penyediaan layanan bagi sivitas akademik.
Bahkan dengan teknologi ini, dapat diidentifikasi lulusan sebuah perguruan
tinggi tersebut mengelompok di daerah mana saja, bidang kerja apa saja, tanpa
mengadakan tracer study, dengan syarat ada komitmen yang dibangun antara lembaga
pendidikan denga alumninya, untuk tetap menjadikan smart card tersebut bagian dari identifikasi dirinya oleh lembaga.
DAFTAR PUSTAKA
Alisyahbana, Iskandar. (1980).
Teknologi dan Perkembangan. Jakarta:
Yayasan Idayu.
ISO/IEC, ISO/IEC 7816: Integrated Circuit(s)
Cards with Contacts
Kranenburg, Rob van. (2006). HowTo: The Will to
Organize. Leonardo, 4(39), 305-309.
Lenoir, Timothy. (2002). Makeover: Writing the
Body into the Posthuman Technoscape: Part One: Embracing the Posthuman. Configurations, 2(10), 203-220.
Access from: http://onno.vlsm.org%2Fv11%2Fref-ind-1%2Fphysical%2Fteknologi-smartcard-dan-impian-masa-depan-10-2001.rtf&ei=-liZT6jjBoPtrQfEwYGyAQ&usg=AFQjCNEGpE0tM3jcovHaowNQW8zDaLPe4g&cad=rja
by Sri Mulyani at 26 April 2012 21:39 WIB
Access from: http://lukmanmikrodata.blogspot.com/2012/04/teknologi-smartcard-dan-impian-di-masa.html
by Sri Mulyani at 26 April 2012 13:49 WIB
Access from http://www.rfidjournal.com/article/purchase/7917
by Sri Mulyani at 9 Mei 2012 05:30 WIB











No comments:
Post a Comment