PENDAHULUAN
Sebagaimana sebuah
organisasi, team basket bisa dikatakan merupakan miniatur dari sebuah
organisasi, dimana peran yang dijalankan oleh masing-masing orang berbeda,
namun tujuannya sama sebagaimana yang telah ditetapkan oleh organisasi
tersebut. Dalam team basket ada yang memiliki posisi bertahan, menyerang, dan
eksekutor, demikian pula dalam organisasi, ada yang menjadi pelaksana, manager
tingkat bawah, manager tingkat menengah, dan top manager, demikian juga dengan
posisinya, ada yang berada pada divisi marketing, produksi, HRD, keuangan,
penyimpanan dan pendistribusian, dan sebagainya.
Berbicara mengenai
pelatihan dan pengembangan dalam organisasi, bagi lembaga bisnis yang memiliki
orientasi untuk mengejar keuntungan, maka pelatihan dan pengembangan lebih diarahkan
pada pelayanan pelanggan dan penjualan produk. Pada film Coach Carter, pelatihan tersebut ditujukan untuk mencapai 2 (dua)
tujuan yaitu: meraih kemenangan, dimana selama ini Team Baskel Richmond dari 26
pertandingan hanya mencatat 4 kali kemenangan, sedangkan tujuan kedua yaitu
kemampuan akademik sebagaimana yang disepakati antara Carter sebagai pelatih dan anak didiknya yaitu 2,3. Tujuan yang
ditetapkan oleh Coach Carter bukan hanya meraih kemenangan yang merupakan tujuan
jangka pendek, namun mampu menjalani dan menyelesaikan studi dengan standar
hasil yang telah disepakati bersama sebagai tujuan jangka panjang. Intinya
sebagai pelatih yang merupakan penggerak kemana kelompok akan diarahkan, harus memiliki
tujuan yang jelas tentang hasil yang diharapkan dalam jangka pendek maupun
jangka panjang terhadap pelatihan yang diberikannya.
Pelatihan, seyogyanya
selain bertujuan memberikan nilai tambah kepada organisasi juga memberi nilai
tambah kepada setiap pribadi peserta, secara langsung maupun tidak langsung,
sehingga akan tumbuh motivasi dalam diri peserta bahwa pelatihan ini bukan
hanya merupakan kebutuhan perusahaan, namun juga kebutuhan mereka. Spesifikasi
pelatihan yang diberikan harus ditinjau, sebelum pelatihan tersebut
dilaksanakan, peserta yang akan ikut pelatihan tersebut juga telah dievaluasi
kemampuannya terkait pelatihan yang akan mereka ikuti.
Pada kenyataannya,
sering kali sebuah pelatihan yang dilaksanakan bukan merupakan pemecahan
masalah yang tepat. Kurangnya pengetahuan memang dapat diatasi dengan mengikuti
pelatihan, namun pengetahuan yang diperoleh tersebut tidak menjamin mampu
mengatasi masalah yang dihadapi oleh organisasi tersebut. Ini merupakan
persoalan yang sering dihadapi, dimana pelatihan tersebut tidak memberikan
dampak yang diharapkan bagi organisasi.
PEMBAHASAN
Penetapan tujuan dari sebuah pelatihan, merupakan hal yang mendasar harus
dilakukan, karena fungsi tujuan tersebut merupakan sebuah guide line, sehingga jelas arah dan sasaran pelatihan tersebut.
Baik penyelenggara (organisasi), pelatih, dan yang dilatih hendaknya memiliki
satu kesatuan arah tujuan yang diharapkan dari suatu pelatihan yang
dilaksanakan.
Setelah menetapkan tujuan yang hendak dicapai, Coach Carter selanjutnya mengidentifikasi kebutuhan pelatihan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut, sehingga ada pelatihan untuk
meningkatkan stamina melalui push up
dan kemampuan berlari, ada pelatihan bertahan, ada pelatihan menyerang dan
bagaimana strategi memasukkan bola ke ring
dalam berbagai situasi.
Sebelum, pelatihan tersebut dilaksanakan, Coach
Carter melihat kesiapan mereka yang akan dilatih, jika
bersedia melaksanakan pelatihan dan memiliki kesamaan persepsi terhadap tujuan
pelatihan tersebut maka, mereka bisa ikut, namun jika tidak, mereka bisa
mengundurkan diri, sebagaimana sikap yang diambil oleh Cruz, yang memilih
mengundurkan diri karena tidak memiliki persepsi yang sama terhadap pelatihan
yang dilakukan tersebut.
Mereka yang berada
pada team basket merupakan orang yang memilih kegiatan ekstra kurikuler basket,
sebagai kegiatan pilihan mereka, sehingga disini dapat dilihat minat dan
motivasi peserta untuk mengikuti program pelatihan dan pengembangan terkait
dengan basket. Akan berbeda situasinya pada pelatihan yang dilaksanakan oleh
organisasi/perusahaan, dimana peserta yang ikut pelatihan dan pengembangan
bukan karena berminat, namun lebih kepada tugas dan tanggung jawab yang
dibebankan kepada mereka, dan mereka tidak bisa memilih pelatihan yang mereka
anggap sesuai dengan minat masing-masing. Dengan demikian wajar jika motivasi
peserta pelatihan rendah dalam mengikuti pelatihan dan pengembangan yang
diberikan kepada mereka, karena organisasi tidak pernah menawarkan alternatif
pilihan pelatihan yang menjadi minat mereka.
Tidak mudah
mewujudkan pelatihan dan pengembangan yang bertujuan untuk kepentingan
organisasi, namun juga diminati oleh peserta ataupun peserta termotivasi untuk
mengikutinya. Untuk mewujudkan hal tersebut memang sulit, namun bukan merupakan
sesuatu yang mustahil. Menurut penulis harus dibangun dulu mutuality of interest dalam organisasi, sehingga apapun yang
dilakukan oleh organisasi baik itu pelatihan dan pengembangan, ataupun
program/kegiatan yang lainnya, seluruh anggota organisasi menilai bahwa hal
tersebut dilakukan bukan hanya untuk kepentingan organisasi, namun juga
kepentingan mereka secara keseluruhan. Dengan demikian, penulis rasa akan
timbul motivasi untuk mengikuti
pelatihan dan pengembangan yang dilakukan oleh organisasi. Mutuality of interest merupakan kontrak
psikologis antara anggota dan organisasi yang merupakan harapan organisasi dan
anggotanya dan perasaan saling memiliki dan ketergantungan antara keduanya.
Coach
Carter sukses mengaplikasikan konsep mutuality of interest tersebut, sehingga anak didiknya termotivasi
untuk meraih tujuan yang tetapkan, walaupun awalnya hanya satu tujuan saja yang
dapat tercapai, namun dengan tumbuhnya kesadaran bahwa tujuan jangka panjang
dan lebih luas itu, merupakan sejatinya tujuan yang harus diwujudkan, dimana
mereka bisa bergantung sebagai pemain basket maupun sebagai individu yang siap
berkompetisi di bidang akademik.
Dari pemaparan di atas
jelas, bahwa Coach Carter melakukan
sistem manajemen karier, dalam kerangka memotivasi dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan pengembangan dengan orientasi jangka panjang bagi anggota
team.
Pelatihan merupakan
kegiatan yang secara sengaja direncanakan dan dilakukan oleh organisasi untuk
memberikan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku kepada karyawan yang
berkaitan dengan pekerjaan. Dalam film tersebut dengan jelas tergambar
bagaimana Coach Carter memberikan
pengetahuan mengenai teknik meningkatkan stamina, teknik bertahan, teknik
menyerang, teknik memasukkan bola dari berbagai posisi, dengan menggunakan
style yang unik, dimana keunikan tersebut hanya diketahui oleh kedua belah
pihak yaitu pelatih dan yang dilatih, seperti ada istilah “Linda”, “Diana”, “Delillah”,
dan lain sebagainya.
Metode pelatihan yang
diberikan oleh Coach Carter dari
mulai, peningkatan stamina, kemampuan bertahan, kemampuan menyerang, dan
kemampuan memasukkan bola ke lapangan, merupakan pelatihan yang dirancang dalam
kerangka penguasaan pengetahuan dan skill dalam permaianan basket. Pada
pelatihan yang dilaksanakan oleh perusahan/organisasi dipandang sebagai
kemungkinan pemecahan masalah untuk meningkatkan kinerja. Pada kenyataannya
sering pelatihan tersebut hanya merupakan kegiatan yang memakan biaya besar,
namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Hal tersebut terjadi karena
pelatihan dilakukan tanpa mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan pelatihan
di lapangan, dan pengembangannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Baiknya, setiap program pelatihan dimulai dengan pembahasan curah pendapat
untuk mengidentifikasi tema-tema dan aktifitas-aktifitas yang melibatkan
orang-orang yang dilatih, membantu mereka menikmati pelatihan tersebut, serta
mempertahankan lebih jauh hal-hal yang mereka pelajari.
Jadi langkah awal
sebelum melaksanakan pelatihan tersebut yaitu mengidentifikasi kebutuhan
pelatihan itu sendiri, menetapkan hasil yang diharapkan, dan mengembangkannya
sesuai dengan kebutuhan. Di sini Coach
Carter telah mengidentifikasi pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan
stamina adalah melalui latihan lari, dan push-up, sedangkan untuk kemampuan
bertahan dan menyerang menggunakan perpaduan kemampuan yang diperoleh dari
pelatihan stamina dan strategi dengan menggunakan istilah unik seperti Diana,
Delillah, dan Linda.
Coach
Carter pada film tersebut mampu menunjukkan bahwa
pelatihan stamina, strategi menyerang, strategi bertahan, serta teknik
memasukkan bola merupakan pemecahan masalah yang tepat untuk meningkatkan kemampuan
team dalam setiap pertandingan. Coach
Carter meminimalisir kemungkinan kegagalan yang terjadi dari pelatihan yang
dilakukannya, dengan melakukan tahapan sebagaimana yang secara tidak langsung
diungkapkan oleh Coach Carter kepada penonton
yaitu:
Gambar
1. Proses analisis kebutuhan pelatihan/pengembangan
Analisis Tugas
|
||
Pelatihan
seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi tersebut dalam kerangka mencapai
tujuan organisasi
|
Penyebab
kinerja yang tidak sesuai tersebut akibat kurang nya pelatihan atau kurang
nya motivasi
|
Identifikasi
tugas-tugas, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diperlukan pada
pelatihan
|
Bagaimana
sumberdaya yang tersedia untuk pelatihan tersebut
|
Mengidentifikasi
individu yang membutuhkan pelatihan
|
Jenis
pelatihan yang dibutuhkan oleh individu agar dapat menyelesaikan tugasnya
terkait peran individu yang berbeda
|
Bagaimana
dukungan dari rekan kerja, manager untuk aktivitas pelatihan tersebut
|
Memastikan
kesiapan individu yang akan mengikuti pelatihan tersebut
|
Peluang
penerapan pelatihan tersebut dalam pekerjaannya.
|
Coach
Carter tahu persis tujuan organisasi tersebut dengan
mengangkatnya sebagai pelatih team basket sekolah Richmond, yaitu mengangkat
pamor sekolah tersebut melalui team basketnya. Coach Carter juga mengetahui teknik melatih individu yang
berbeda-beda, yang juga memiliki peran masing-masing yang berbeda-beda pula
dalam team tersebut, agar tujuan team tersebut dapat tercapai.
Peluang kegagalan dari
pelatihan tersebut tetap ada, meskipun telah dilakukan tahapan identifikasi
sebagaimana yang dilaksanakan oleh Coach
Carter, namun kegagalan tersebut dalam tataran implementasinya disebabkan
oleh faktor-faktor eksternal, seperti strategi yang digunakan oleh para
pesaing. Namun dapat dikatakan bahwa pelatihan yang diberikan tersebut telah
berhasil, dengan terjadinya peningkatan kemampuan yang tunjukkan melalui
keberhasilan dalam berkompetisi di lapangan.
Jika kita mengamati,
ada hal yang unik dari sebuah team basket, team ini merupakan pusat dari sebuah
proses pelatihan dan pengembangan, namun ia juga merupakan produk yang akan
berkompetisi dengan produk sejenis, dengan demikian pelatihan dan pengembangan
yang dilakukan pada team basket, mirip dengan pelatihan dan pengembangan pada
organisasi yang menyediakan jasa. Jasa yang diberikan team basket tersebut
berupa kemampuan untuk bermain basket, indikator keberhasilannya adalah kemenangan
yang diraih dalam kompetisi, jadi yang menjadi fokus pelatihan dan pengembangan
adalah kemampuan bermain basket, baik dari segi teknik bermain dan penguasaan
lapangan.
Untuk metode
pelatihan yang diberikan pada team basket, metode pelatihan praktis paling
tepat diterapkan, karena langsung menyentuh pokok persoalan terkait skill dan
strategi untuk bermain basket dengan tujuan menghasilkan kinerja yang
ditunjukan melalui keberhasilan menjadi pemenang dalam kompetisi. Di sisi lain Coach Carter telah memiliki pengalaman
praktis baik secara pribadi seorang pelatih, maupun kelompok melalui team
basket yang dilatih sebelumnya, sehingga pengalaman-pengalaman tersebut dapat
diimplementasikan sebagai materi pelatihan pada team basket Richmond. Namun hal
yang terpenting yaitu bagaimanapun pelatihan yang diberikan oleh pada sebuah
team basket akan mengalami kegagalan jika tidak mengacu pada hands-on-methods, mereka yang dilatih
harus berperan serta aktif dalam proses pembelajaran, bukan hanya pelatih yang
berperan aktif berbagi pengalaman dan pengetahuan teknisnya. Pelatihan yang
diberikan di perusahaan atau institusi pemerintah menggunakan metode bukan
hanya pelatihan praktis, namun juga presentasi, pengalaman praktis dan kelompok,
magang, dan simulasi, atau gabungan dua atau lebih metode-metode tersebut.
Pelatihan yang
diberikan Coach Carter ditujukan bagi
penciptaan dan berbagi pengetahuan, di lapangan diuji secara langsung, dalam
film Coach Carter hal tersebut
ditunjukkan dengan adanya kompetisi-kompetisi, sebagai kegiatan untuk melakukan
implementasi dari pengetahuan dan skill, yang diperoleh terkait kemampuan untuk
menguasai permainan basket untuk memperoleh kemenangan.
Penilain terhadap
pelatihan dan pengembangan yang dilakukan oleh Coach Carter apakah berhasil/tidak dapat dinilai oleh penonton
sendiri, namun sisi kegagalan dari Coach
Carter ada, dimana tujuan yang ditetapkan dari awal bukan hanya peningkatan
kemampuan bermain basket dan meraih kemenangan pada kompetisi, namun juga nilai
akademik yang disyaratkan yaitu minimal 2,3 yang harus dipenuhi oleh seluruh
anggota team. Kegagalan disisi ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor yang
berada di luar Coach Carter, yaitu
sistem akademik itu sendiri dimana mereka yang memiliki kegiatan ekstra
kurikuler dibiarkan berlaku di luar yang telah ditetapkan oleh sistem, seperti
kehadiran tatap muka yang minim, yang berdampak pada hasil belajar yang rendah.
Namun Coach Carter merasa bertanggung
jawab terhadap hal tersebut karena ia menetapkan tujuan tersebut, namun tidak
mengontrol prosesnya secara berkesinambungan, sehingga hasilnya seperti yang
sama-sama disaksikan oleh penonton, berhasil membina sebuah team basket, namun
gagal meningkatkan kemampuan akademik team (awalnya).
Kegagalan pada sisi
akademik tersebut, menjadi evaluasi bagai Coach
Carter, dimana Coach Carter mengetahui
persis strategi yang harus digunakan, untuk melatih parasiswa dalam kerangka
mencapai prestasi akademik dengan pendekatan keilmuan, maupun pendekatan yang
sifatnya kekeluargaan, sehingga mereka seperti diperlakukan bagaikan sebuah
keluarga, sehingga yang tumbuh motivasi bahwasanya hal yang dilakukan tersebut
merupakan kepentingan dan tujuan bersama sebagai sebuah keluarga, bukan
kepentingan dan tujuan individu.
Intinya, pelatihan
yang diberikan tersebut bukan dititik beratkan pada pengajaran beberapa
keterampilan, namun lebih luas dari pada itu, yaitu menciptakan dan berbagi
pengetahuan. Pelatihan yang diberikan oleh Coach
Carter bukan hanya sekedar pelatihan kemampuan untuk menguasai teknik
permainan basket dan implementasinya di lapangan, namun juga melatih kemampuan
intelektual mereka sebagai modal yang dapat dipergunakan dalam persaingan untuk
tujuan yang lebih besar lagi di masa yang akan datang.
Kemampuan Coach Carter untuk melihat potensi pada
tiap anak didiknya, sehingga dapat menempatkan mereka pada posisi yang pas
sesuai dengan kemampuannya tersebut, apakah pada posisi bertahan, menyerang,
atau eksekutor. Penulis melihat, kemampuan tersebut harus dimiliki oleh seorang
trainer sehingga apa yang dilakukannya
tidak menjadi hal yang sia-sia, karena individu tidak memiliki kemampuan untuk
mengimplementasikan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku hasil pelatihan
pada tugas/pekerjaannya. Ini memang bukan sesuatu yang mudah, bukan hanya
pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan, namun juga kepedulian akan
kebermanfaatan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang dibentuk melalui
pelatihan itu sendiri.
Sejauh yang penulis
amati jarang sekali seorang trainer
memikirkan kebermanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dibentuk
melalui pelatihan tersebut. Pelatihan yang mereka lakukan hanya fokus pada
pelaksanaan kewajiban sebagai trainer,
bukan pada penguasaan oleh peserta dan peluang untuk diimplementasikan pada
tugas/pekerjaan yang dilakukan peserta. Hal yang lebih mengecewakan lagi,
sering peserta yang dilatih tidak mengetahui subtansi dari pelatihan itu
sendiri, apakah terkait dengan pengetahuan baru tentang tugas mereka, atau
kemampuan teknis baru, atau pembentukan perilaku tertentu. Namun Coach Carter mampu menjawab semua
pertanyaan tersebut di atas dengan tujuan yang ditetapkan secara jelas dan
tegas, kerja keras, disiplin, kecerdasan dan visi seorang pelatih yang melihat
tujuan yang akan dicapai tersebut bukan hanya tujuan yang sempit dan jangka
pendek, namun lebih luas dan berorientasi jangka panjang.
Ada beberapa hal yang
mempengaruhi implementasi dari pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang
diperoleh/dibangun melalui pelatihan tersebut, yang ditunjukkan oleh
gambar berikut.
Gambar
2. Berbagai karakteristik lingkungan pekerjaan yang
mempengaruhi
Transfer of Training
Pada film Coach Carter, implementasi dari
pelatihan dan pengembangan tersebut di lapangan langsung di-direct oleh Coach Carter, dengan menggunakan instruksi-instruksi khusus kapan
harus bertahan, menyerang, dan melakukan eksekusi. Dalam implementasi
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diperoleh dalam pelatihan pada
organisasi, trainer tidak pernah men-direct proses tersebut, sehingga tidak
pernah terjadi feed back dari pelatihan tersebut, sebagai bahan kajian
perbaikan pelatihan yang akan diberikan selanjutnya. Tanggung jawab untuk
men-direct proses implementasi tersebut terletak pada manager atau atasan
langsung, yang sering tidak mengetahui materi pelatihan yang diberikan, dan
bagaimana menilai tingkat keberhasilan implementasinya di lapangan.
Adanya gap, antara
sasaran dan tujuan dari suatu pelatihan/pengembangan dengan keberhasilan
implementasinya di lapangan dalam kerangka mengatasi masalah organisasi
disebabkan hal berikut ini.
1.
Sasaran dan tujuan pelatihan di
tetapkan oleh organisasi, sebagai pihak yang membutuhkan pelatihan dalam
kerangka mengatasi permasalahan organisasi
2.
Materi pelatihan yang disajikan,
apakah merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi
oleh organisasi, hal ini sering kurang diperhatikan baik oleh organisasi
sebagai pihak penyelenggara, maupun trainer
yang diberi tanggung jawab sebagai pihak yang mentransfer pengetahuan,
melatih keterampilan, dan pembentukan perilaku
3.
Penilaian tingkat keberhasilan dari
proses pelatihan itu sendiri jarang sekali dilakukan evaluasi secara konsisten
dan berkelanjutan, sebagai bahan perbaikan terhadap pelatihan yang diberikan,
baik dari segi materi, maupun metode pelatihan yang digunakan.
Jika dalam film Coach Carter, jelas bahwa Coach Carter menetapkan tujuan dan
sasaran yang harus dicapai oleh team, dia sendiri yang melakukan pelatihan dan
pengembangan terhadap team tersebut, menentukan materi pelatihan, dan metode
yang digunakan, dalam tataran implementasi Coach
Carter langsung men-direct-nya, sehingga kekurangan dalam pelatihan yang
diberikannya dapat diketahui dengan jelas, dan bisa langsung diupayakan
penanganannya sebelum kompetisi berikutnya.
Dapatkah hal tersebut
di atas diadaptasikan pada sebuah organisasi?. Menurut penulis, hal tersebut
dapat dilakukan dengan mempergunakan konsep pelatihan oleh rekan sejawat,
dimana biasanya rekan sejawat mengetahui kelebihan dan kekurangan rekan sejawat
lainnya, karena interaksi yang dilakukan dalam hubungan pekerjaan dan interaksi
pribadi yang dilakukan setiap hari. Jadi, yang diberikan pelatihan oleh
organisasi terlebih dahulu adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan
keterampilan di atas rata-rata pengetahuan dan keterampilan rekan sejawatnya,
dan mereka tersebut memiliki sikap yang dapat diterima oleh rekan-rekannya,
sehingga apa yang dilakukan dan dikatakanya merupakan hal yang dapat dipercayai
oleh rekan sejawatnya tersebut. Menurut penulis, budaya inilah yang harus
dikembangkan, sehingga training yang dilakukan oleh organisasi dimaksudkan
untuk membentuk trainer bagi rekan
kerjanya yang lain pada bidang sejenis. Dengan demikian evaluasi terhadap hasil
yang diharapkan dapat dimonitor langsung oleh trainer yang merupakan rekan sejawat tersebut. Budaya ini selain,
akan memberikan dinamika tersendiri bagi organisasi, juga akan menumbuhkan apa
yang dikenal dengan continous learning.
Jadi pelatihan tidak harus diberikan oleh trainer
khusus, namun rekan sejawat juga dapat menjadi trainer bagi rekannya yang lain.
Hal tersebut di atas,
selain akan menumbuhkan apa yang dikenal dengan continous leraning juga akan membentuk apa yang disebut dengan communities of practice, dengan demikian
pelatihan melalui rekan sejawat merupakan metode pelatihan yang menurut penulis
paling efektif untuk memecahkan persoalan-persoalan teknis dan strategi
pelaksanaan pekerjaan. Secara tidak langsung aktifitas yang dilakukan oleh
kelompok yang disebut communities of
practice tersebut akan memunculkan saling berbagi pengalaman, pengetahuan,
carar-cara praktis dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaan, dengan demikian
muncul dengan sendirinya apa yang dikenal dengan cross training.
Alternatif lain yang
dapat dilakukan untuk memastikan bahwa, program pelatihan yang diberikan kepada
seseorang dapat di implementasikan dilapangan (transfer of training), meskipun manager/atasan yang bersangkutan
tidak terlibat pada pelatihan secara langsung, dan tidak mengetahui secara
detail materi yang diberikan pada pelatihan tersebut adalah melalui apa yang
disebut dengan action plan. Jadi
tujuan pelatihan dan materi pelatihan bisa ditetapkan oleh organisasi bersama
dengan trainer, namun implementasi di
lapangan di direct oleh atasan
langsung melalui action plant
tersebut. Namun pada kenyataannya, action
plant tersebut jarang sekali ditemui pada pelaksanaan program pelatihan.
Menurut penulis, action plant sebagai
guide merupakan tools yang penting
harus disediakan, untuk memastikan transfer
of training dan kebermanfaatan dari pelatihan tersebut, sehingga pelatihan
yang laksanakan bukan merupakan sesuatu kemubaziran, dimana pengetahuan dan
keterampilan diperoleh, namun tidak dimanfaatkan di lapangan.
Pembelajaran pada
film Coach Carter yang lain yang
dapat kita peroleh yaitu, Coach Carter yang
merupakan orang baru di sekolah Richmond, mampu mengidentifikasi persoalan
kegagalan team basket sekolah tersebut pada kompetisi antar sekolah. Apakah
kemampuan tersebut diperoleh dari pengalaman sebagai pelatih basket, atau
memang skill khusus yang harus dimiliki sebagai pelatih basket untuk melihat persoalan kasus per
kasus, namun yang jelas Coach Carter memiliki
kemampuan mengidentifikasi persoalan kebutuhan pelatihan, dan memberikan
pelatihan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Hal yang lebih
menarik, yaitu Coach Carter bukan
hanya memberikan pelatihan, namun juga pengembangan bagi anggota team yang
orientasi hasilnya adalah masa depan mereka, melalui harapan keberlajutan studi
mereka keperguruan tinggi, keberlanjutan mereka sebagai anggota team basket
universitas nantinya, bahkan harapan bahwa mereka akan berkarier di team basket
profesional NBA. Sehingga fokus yang dilakukan oleh Coach Carter bukan hanya pada kondisi saat ini, namun jauh pada
situasi yang diharapkan terwujud pada masa yang akan datang, dengan harapan
terjadi perubahan pada anggota team baik dari segi pendidikan, kualitas hidup,
dan peningkatan strata sosial mereka.
KESIMPULAN
Pesan yang penulis
tangkap dari film Coach Carter tersebut,
bahwa perbaikan dan perubahan kemampuan, keterampilan, penguasaan pengetahuan,
dan perilaku tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan kedisiplinan, kerja keras, ketegasan yang cerdas, dan visi pelatih yang
jauh kedepan, dan pendekatan pribadi melalui pemberdayaan, perlakuan yang sama
layaknya anak dan bapak, perlakuan melindungi, yang pada akhirnya menumbuhkan
motivasi untuk berubah dan berkembang.
Sentuhan seorang pelatih, dan sentuhan kebapakan yang ditunjukkan oleh Coach Carter menjadi
kunci keberhasilannya mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu meraih kemenangan
dalam kompetisi, dan keberhasilan anak didiknya meraih prestasi akademik sebagai
bagian tujuan jangka panjang yang disyaratkan pada anak didiknya. Di sini
penulis melihat bahwasanya Coach Carter menggunakan
proses pendekatan melalui sosialisasi organisasi dan sosialisasi antisipasi,
dimana ada pendekatan yang dilakukan melalui perubahan sikap dan pemberian
harapan yang coba direalisasikan menjadi kenyataan dengan komitmen,
kedisiplinan, kerja keras, dan kekompakan.
Idealnya pelatihan
dan pengembangan yang dilakukan oleh organisasi tersebut menyentuh hal-hal yang
menumbuhkan motivasi pada diri peserta, sehingga dengan pelatihan dan
pengembangan tersebut mereka seperti diberdayakan, diperhatikan, dihargai, dan
dianggap layak untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Jika demikian
niscaya pelatihan tersebut memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar pada
tataran implementasi, karena peserta menganggap bahwa hal tersebut bukan hanya
kebutuhan organisasi, namun juga kebutuhan mereka.
Keberhasilan program
pelatihan yang dilakukan oleh organisasi, menurut penulis tergantung pada
hal-hal berikut ini.
1.
Identifikasi kebutuhan pelatihan yang
sesuai bagi penyelesaian permasalahan yang dihadapi organisasi, metode yang
digunakan, dan trainer yang sesuai
untuk mengemban tanggung jawab tersebut, apakah dari internal organisasi, atau
dengan menggunakan jasa pihak lain.
2.
Identifikasi kesiapan peserta yang
mengikuti pelatihan dan pengembangan tersebut, baik dari sisi keyakinan diri
peserta, manfaat yang akan diperoleh dari pelatihan tersebut, kesadaran
kebutuhan pelatihan tersebut bagi dirinya, dan dukungan dari lingkungan atas
keikut sertaan individu tersebut pada kegiatan pelatihan/pengembangan tersebut.
3.
Pelatihan yang diberikan bukan hanya
memberikan pembelajaran kepada peserta, namun memberikan makna bahwa pelatihan
tersebut memberdayakan mereka, bukannya mengkaji kemampuan-kemampuan yang tidak
mereka miliki dalam melaksanakan tugas
4.
Peran atasan langsung yang besar,
dimana atasan mengetahui persis tujuan pelatihan dan pengembangan tersebut,
materi yang diberikan, dan melakukan evaluasi terhadap implementasi hasil dari
pelatihan tersebut dalam pelaksanaan tugas di lapangan, dan ketersediaan action plant sebagai tools yang memonitor transfer of training dan kebermanfaatan
pelatihan tersebut.
Pelatihan dan
pengembangan memiliki hubungan yang sangat erat, namun pelatihan tidak sama
dengan pengembangan, seseorang tidak harus mengikuti pelatihan untuk
pengembangan karier, namun tentu saja aspek penguasaan pengetahuan dan
kemampuannya akan terbatas. Demikian juga halnya seseorang yang mengikuti
pelatihan secara terus menerus, belum tentu akan berkembang kariernya, jika
perusahaan tak pernah memiliki rencana pengembangan ke depan untuknya.
DAFTAR BACAAN
Gale,
David., Robbins, Brian., Tollin, Michael. 2005. Coach Carter. Paramount
Pictures. Sharone Meir, United States, 136 mins.
Noe,
Raymond A. (2008). Manajemen Sumber Daya
Manusia: Mencapai Keunggulan Bersaing. Jakarta: Salemba 4.

No comments:
Post a Comment