Sunday, December 16, 2012

Pelatihan dan Pengembangan


PENDAHULUAN
Sebagaimana sebuah organisasi, team basket bisa dikatakan merupakan miniatur dari sebuah organisasi, dimana peran yang dijalankan oleh masing-masing orang berbeda, namun tujuannya sama sebagaimana yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut. Dalam team basket ada yang memiliki posisi bertahan, menyerang, dan eksekutor, demikian pula dalam organisasi, ada yang menjadi pelaksana, manager tingkat bawah, manager tingkat menengah, dan top manager, demikian juga dengan posisinya, ada yang berada pada divisi marketing, produksi, HRD, keuangan, penyimpanan dan pendistribusian, dan sebagainya.
Berbicara mengenai pelatihan dan pengembangan dalam organisasi, bagi lembaga bisnis yang memiliki orientasi untuk mengejar keuntungan, maka pelatihan dan pengembangan lebih diarahkan pada pelayanan pelanggan dan penjualan produk. Pada film Coach Carter, pelatihan tersebut ditujukan untuk mencapai 2 (dua) tujuan yaitu: meraih kemenangan, dimana selama ini Team Baskel Richmond dari 26 pertandingan hanya mencatat 4 kali kemenangan, sedangkan tujuan kedua yaitu kemampuan akademik sebagaimana yang disepakati antara Carter sebagai pelatih dan anak didiknya yaitu 2,3. Tujuan yang ditetapkan oleh Coach Carter bukan hanya meraih kemenangan yang merupakan tujuan jangka pendek, namun mampu menjalani dan menyelesaikan studi dengan standar hasil yang telah disepakati bersama sebagai tujuan jangka panjang. Intinya sebagai pelatih yang merupakan penggerak kemana kelompok akan diarahkan, harus memiliki tujuan yang jelas tentang hasil yang diharapkan dalam jangka pendek maupun jangka panjang terhadap pelatihan yang diberikannya.
Pelatihan, seyogyanya selain bertujuan memberikan nilai tambah kepada organisasi juga memberi nilai tambah kepada setiap pribadi peserta, secara langsung maupun tidak langsung, sehingga akan tumbuh motivasi dalam diri peserta bahwa pelatihan ini bukan hanya merupakan kebutuhan perusahaan, namun juga kebutuhan mereka. Spesifikasi pelatihan yang diberikan harus ditinjau, sebelum pelatihan tersebut dilaksanakan, peserta yang akan ikut pelatihan tersebut juga telah dievaluasi kemampuannya terkait pelatihan yang akan mereka ikuti.
Pada kenyataannya, sering kali sebuah pelatihan yang dilaksanakan bukan merupakan pemecahan masalah yang tepat. Kurangnya pengetahuan memang dapat diatasi dengan mengikuti pelatihan, namun pengetahuan yang diperoleh tersebut tidak menjamin mampu mengatasi masalah yang dihadapi oleh organisasi tersebut. Ini merupakan persoalan yang sering dihadapi, dimana pelatihan tersebut tidak memberikan dampak yang diharapkan bagi organisasi.

PEMBAHASAN
Penetapan tujuan dari sebuah pelatihan, merupakan hal yang mendasar harus dilakukan, karena fungsi tujuan tersebut merupakan sebuah guide line, sehingga jelas arah dan sasaran pelatihan tersebut. Baik penyelenggara (organisasi), pelatih, dan yang dilatih hendaknya memiliki satu kesatuan arah tujuan yang diharapkan dari suatu pelatihan yang dilaksanakan.
Setelah menetapkan tujuan yang hendak dicapai, Coach Carter selanjutnya mengidentifikasi kebutuhan pelatihan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut, sehingga ada pelatihan untuk meningkatkan stamina melalui push up dan kemampuan berlari, ada pelatihan bertahan, ada pelatihan menyerang dan bagaimana strategi memasukkan bola ke ring dalam berbagai situasi.
Sebelum, pelatihan tersebut dilaksanakan, Coach Carter melihat kesiapan mereka yang akan dilatih, jika bersedia melaksanakan pelatihan dan memiliki kesamaan persepsi terhadap tujuan pelatihan tersebut maka, mereka bisa ikut, namun jika tidak, mereka bisa mengundurkan diri, sebagaimana sikap yang diambil oleh Cruz, yang memilih mengundurkan diri karena tidak memiliki persepsi yang sama terhadap pelatihan yang dilakukan tersebut.
Mereka yang berada pada team basket merupakan orang yang memilih kegiatan ekstra kurikuler basket, sebagai kegiatan pilihan mereka, sehingga disini dapat dilihat minat dan motivasi peserta untuk mengikuti program pelatihan dan pengembangan terkait dengan basket. Akan berbeda situasinya pada pelatihan yang dilaksanakan oleh organisasi/perusahaan, dimana peserta yang ikut pelatihan dan pengembangan bukan karena berminat, namun lebih kepada tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka, dan mereka tidak bisa memilih pelatihan yang mereka anggap sesuai dengan minat masing-masing. Dengan demikian wajar jika motivasi peserta pelatihan rendah dalam mengikuti pelatihan dan pengembangan yang diberikan kepada mereka, karena organisasi tidak pernah menawarkan alternatif pilihan pelatihan yang menjadi minat mereka.
Tidak mudah mewujudkan pelatihan dan pengembangan yang bertujuan untuk kepentingan organisasi, namun juga diminati oleh peserta ataupun peserta termotivasi untuk mengikutinya. Untuk mewujudkan hal tersebut memang sulit, namun bukan merupakan sesuatu yang mustahil. Menurut penulis harus dibangun dulu mutuality of interest dalam organisasi, sehingga apapun yang dilakukan oleh organisasi baik itu pelatihan dan pengembangan, ataupun program/kegiatan yang lainnya, seluruh anggota organisasi menilai bahwa hal tersebut dilakukan bukan hanya untuk kepentingan organisasi, namun juga kepentingan mereka secara keseluruhan. Dengan demikian, penulis rasa akan timbul motivasi untuk mengikuti  pelatihan dan pengembangan yang dilakukan oleh organisasi. Mutuality of interest merupakan kontrak psikologis antara anggota dan organisasi yang merupakan harapan organisasi dan anggotanya dan perasaan saling memiliki dan ketergantungan antara keduanya.
Coach Carter sukses mengaplikasikan konsep mutuality of interest tersebut, sehingga anak didiknya termotivasi untuk meraih tujuan yang tetapkan, walaupun awalnya hanya satu tujuan saja yang dapat tercapai, namun dengan tumbuhnya kesadaran bahwa tujuan jangka panjang dan lebih luas itu, merupakan sejatinya tujuan yang harus diwujudkan, dimana mereka bisa bergantung sebagai pemain basket maupun sebagai individu yang siap berkompetisi di bidang akademik.
Dari pemaparan di atas jelas, bahwa Coach Carter melakukan sistem manajemen karier, dalam kerangka memotivasi dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pengembangan dengan orientasi jangka panjang bagi anggota team.
Pelatihan merupakan kegiatan yang secara sengaja direncanakan dan dilakukan oleh organisasi untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku kepada karyawan yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam film tersebut dengan jelas tergambar bagaimana Coach Carter memberikan pengetahuan mengenai teknik meningkatkan stamina, teknik bertahan, teknik menyerang, teknik memasukkan bola dari berbagai posisi, dengan menggunakan style yang unik, dimana keunikan tersebut hanya diketahui oleh kedua belah pihak yaitu pelatih dan yang dilatih, seperti ada istilah “Linda”, “Diana”, “Delillah”, dan lain sebagainya.
Metode pelatihan yang diberikan oleh Coach Carter dari mulai, peningkatan stamina, kemampuan bertahan, kemampuan menyerang, dan kemampuan memasukkan bola ke lapangan, merupakan pelatihan yang dirancang dalam kerangka penguasaan pengetahuan dan skill dalam permaianan basket. Pada pelatihan yang dilaksanakan oleh perusahan/organisasi dipandang sebagai kemungkinan pemecahan masalah untuk meningkatkan kinerja. Pada kenyataannya sering pelatihan tersebut hanya merupakan kegiatan yang memakan biaya besar, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Hal tersebut terjadi karena pelatihan dilakukan tanpa mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan pelatihan di lapangan, dan pengembangannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Baiknya, setiap program pelatihan dimulai dengan pembahasan curah pendapat untuk mengidentifikasi tema-tema dan aktifitas-aktifitas yang melibatkan orang-orang yang dilatih, membantu mereka menikmati pelatihan tersebut, serta mempertahankan lebih jauh hal-hal yang mereka pelajari.
Jadi langkah awal sebelum melaksanakan pelatihan tersebut yaitu mengidentifikasi kebutuhan pelatihan itu sendiri, menetapkan hasil yang diharapkan, dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan. Di sini Coach Carter telah mengidentifikasi pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan stamina adalah melalui latihan lari, dan push-up, sedangkan untuk kemampuan bertahan dan menyerang menggunakan perpaduan kemampuan yang diperoleh dari pelatihan stamina dan strategi dengan menggunakan istilah unik seperti Diana, Delillah, dan Linda.
Coach Carter pada film tersebut mampu menunjukkan bahwa pelatihan stamina, strategi menyerang, strategi bertahan, serta teknik memasukkan bola merupakan pemecahan masalah yang tepat untuk meningkatkan kemampuan team dalam setiap pertandingan. Coach Carter meminimalisir kemungkinan kegagalan yang terjadi dari pelatihan yang dilakukannya, dengan melakukan tahapan sebagaimana yang secara tidak langsung diungkapkan oleh Coach Carter kepada penonton yaitu:
Gambar 1. Proses analisis kebutuhan pelatihan/pengembangan
Analisis Organisasi
Analisis Individu
Analisis Tugas
Pelatihan seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi tersebut dalam kerangka mencapai tujuan organisasi
Penyebab kinerja yang tidak sesuai tersebut akibat kurang nya pelatihan atau kurang nya motivasi
Identifikasi tugas-tugas, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diperlukan pada pelatihan
Bagaimana sumberdaya yang tersedia untuk pelatihan tersebut
Mengidentifikasi individu yang membutuhkan pelatihan
Jenis pelatihan yang dibutuhkan oleh individu agar dapat menyelesaikan tugasnya terkait peran individu yang berbeda
Bagaimana dukungan dari rekan kerja, manager untuk aktivitas pelatihan tersebut
Memastikan kesiapan individu yang akan mengikuti pelatihan tersebut
Peluang penerapan pelatihan tersebut dalam pekerjaannya.

Coach Carter tahu persis tujuan organisasi tersebut dengan mengangkatnya sebagai pelatih team basket sekolah Richmond, yaitu mengangkat pamor sekolah tersebut melalui team basketnya. Coach Carter juga mengetahui teknik melatih individu yang berbeda-beda, yang juga memiliki peran masing-masing yang berbeda-beda pula dalam team tersebut, agar tujuan team tersebut dapat tercapai.
Peluang kegagalan dari pelatihan tersebut tetap ada, meskipun telah dilakukan tahapan identifikasi sebagaimana yang dilaksanakan oleh Coach Carter, namun kegagalan tersebut dalam tataran implementasinya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti strategi yang digunakan oleh para pesaing. Namun dapat dikatakan bahwa pelatihan yang diberikan tersebut telah berhasil, dengan terjadinya peningkatan kemampuan yang tunjukkan melalui keberhasilan dalam berkompetisi di lapangan.
Jika kita mengamati, ada hal yang unik dari sebuah team basket, team ini merupakan pusat dari sebuah proses pelatihan dan pengembangan, namun ia juga merupakan produk yang akan berkompetisi dengan produk sejenis, dengan demikian pelatihan dan pengembangan yang dilakukan pada team basket, mirip dengan pelatihan dan pengembangan pada organisasi yang menyediakan jasa. Jasa yang diberikan team basket tersebut berupa kemampuan untuk bermain basket, indikator keberhasilannya adalah kemenangan yang diraih dalam kompetisi, jadi yang menjadi fokus pelatihan dan pengembangan adalah kemampuan bermain basket, baik dari segi teknik bermain dan penguasaan lapangan.
Untuk metode pelatihan yang diberikan pada team basket, metode pelatihan praktis paling tepat diterapkan, karena langsung menyentuh pokok persoalan terkait skill dan strategi untuk bermain basket dengan tujuan menghasilkan kinerja yang ditunjukan melalui keberhasilan menjadi pemenang dalam kompetisi. Di sisi lain Coach Carter telah memiliki pengalaman praktis baik secara pribadi seorang pelatih, maupun kelompok melalui team basket yang dilatih sebelumnya, sehingga pengalaman-pengalaman tersebut dapat diimplementasikan sebagai materi pelatihan pada team basket Richmond. Namun hal yang terpenting yaitu bagaimanapun pelatihan yang diberikan oleh pada sebuah team basket akan mengalami kegagalan jika tidak mengacu pada hands-on-methods, mereka yang dilatih harus berperan serta aktif dalam proses pembelajaran, bukan hanya pelatih yang berperan aktif berbagi pengalaman dan pengetahuan teknisnya. Pelatihan yang diberikan di perusahaan atau institusi pemerintah menggunakan metode bukan hanya pelatihan praktis, namun juga presentasi, pengalaman praktis dan kelompok, magang, dan simulasi, atau gabungan dua atau lebih metode-metode tersebut.
Pelatihan yang diberikan Coach Carter ditujukan bagi penciptaan dan berbagi pengetahuan, di lapangan diuji secara langsung, dalam film Coach Carter hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kompetisi-kompetisi, sebagai kegiatan untuk melakukan implementasi dari pengetahuan dan skill, yang diperoleh terkait kemampuan untuk menguasai permainan basket untuk memperoleh kemenangan.
Penilain terhadap pelatihan dan pengembangan yang dilakukan oleh Coach Carter apakah berhasil/tidak dapat dinilai oleh penonton sendiri, namun sisi kegagalan dari Coach Carter ada, dimana tujuan yang ditetapkan dari awal bukan hanya peningkatan kemampuan bermain basket dan meraih kemenangan pada kompetisi, namun juga nilai akademik yang disyaratkan yaitu minimal 2,3 yang harus dipenuhi oleh seluruh anggota team. Kegagalan disisi ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor yang berada di luar Coach Carter, yaitu sistem akademik itu sendiri dimana mereka yang memiliki kegiatan ekstra kurikuler dibiarkan berlaku di luar yang telah ditetapkan oleh sistem, seperti kehadiran tatap muka yang minim, yang berdampak pada hasil belajar yang rendah. Namun Coach Carter merasa bertanggung jawab terhadap hal tersebut karena ia menetapkan tujuan tersebut, namun tidak mengontrol prosesnya secara berkesinambungan, sehingga hasilnya seperti yang sama-sama disaksikan oleh penonton, berhasil membina sebuah team basket, namun gagal meningkatkan kemampuan akademik team (awalnya).
Kegagalan pada sisi akademik tersebut, menjadi evaluasi bagai Coach Carter, dimana Coach Carter mengetahui persis strategi yang harus digunakan, untuk melatih parasiswa dalam kerangka mencapai prestasi akademik dengan pendekatan keilmuan, maupun pendekatan yang sifatnya kekeluargaan, sehingga mereka seperti diperlakukan bagaikan sebuah keluarga, sehingga yang tumbuh motivasi bahwasanya hal yang dilakukan tersebut merupakan kepentingan dan tujuan bersama sebagai sebuah keluarga, bukan kepentingan dan tujuan individu.
Intinya, pelatihan yang diberikan tersebut bukan dititik beratkan pada pengajaran beberapa keterampilan, namun lebih luas dari pada itu, yaitu menciptakan dan berbagi pengetahuan. Pelatihan yang diberikan oleh Coach Carter bukan hanya sekedar pelatihan kemampuan untuk menguasai teknik permainan basket dan implementasinya di lapangan, namun juga melatih kemampuan intelektual mereka sebagai modal yang dapat dipergunakan dalam persaingan untuk tujuan yang lebih besar lagi di masa yang akan datang.
Kemampuan Coach Carter untuk melihat potensi pada tiap anak didiknya, sehingga dapat menempatkan mereka pada posisi yang pas sesuai dengan kemampuannya tersebut, apakah pada posisi bertahan, menyerang, atau eksekutor. Penulis melihat, kemampuan tersebut harus dimiliki oleh seorang trainer sehingga apa yang dilakukannya tidak menjadi hal yang sia-sia, karena individu tidak memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku hasil pelatihan pada tugas/pekerjaannya. Ini memang bukan sesuatu yang mudah, bukan hanya pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan, namun juga kepedulian akan kebermanfaatan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang dibentuk melalui pelatihan itu sendiri.
Sejauh yang penulis amati jarang sekali seorang trainer memikirkan kebermanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dibentuk melalui pelatihan tersebut. Pelatihan yang mereka lakukan hanya fokus pada pelaksanaan kewajiban sebagai trainer, bukan pada penguasaan oleh peserta dan peluang untuk diimplementasikan pada tugas/pekerjaan yang dilakukan peserta. Hal yang lebih mengecewakan lagi, sering peserta yang dilatih tidak mengetahui subtansi dari pelatihan itu sendiri, apakah terkait dengan pengetahuan baru tentang tugas mereka, atau kemampuan teknis baru, atau pembentukan perilaku tertentu. Namun Coach Carter mampu menjawab semua pertanyaan tersebut di atas dengan tujuan yang ditetapkan secara jelas dan tegas, kerja keras, disiplin, kecerdasan dan visi seorang pelatih yang melihat tujuan yang akan dicapai tersebut bukan hanya tujuan yang sempit dan jangka pendek, namun lebih luas dan berorientasi jangka panjang.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi implementasi dari pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang diperoleh/dibangun melalui pelatihan tersebut, yang ditunjukkan oleh gambar  berikut.

Gambar 2. Berbagai karakteristik lingkungan pekerjaan yang
mempengaruhi Transfer of Training


Pada film Coach Carter, implementasi dari pelatihan dan pengembangan tersebut di lapangan langsung di-direct oleh Coach Carter, dengan menggunakan instruksi-instruksi khusus kapan harus bertahan, menyerang, dan melakukan eksekusi. Dalam implementasi pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diperoleh dalam pelatihan pada organisasi, trainer tidak pernah men-direct proses tersebut, sehingga tidak pernah terjadi feed back dari pelatihan tersebut, sebagai bahan kajian perbaikan pelatihan yang akan diberikan selanjutnya. Tanggung jawab untuk men-direct proses implementasi tersebut terletak pada manager atau atasan langsung, yang sering tidak mengetahui materi pelatihan yang diberikan, dan bagaimana menilai tingkat keberhasilan implementasinya di lapangan.
Adanya gap, antara sasaran dan tujuan dari suatu pelatihan/pengembangan dengan keberhasilan implementasinya di lapangan dalam kerangka mengatasi masalah organisasi disebabkan hal berikut ini.
1.        Sasaran dan tujuan pelatihan di tetapkan oleh organisasi, sebagai pihak yang membutuhkan pelatihan dalam kerangka mengatasi permasalahan organisasi
2.        Materi pelatihan yang disajikan, apakah merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh organisasi, hal ini sering kurang diperhatikan baik oleh organisasi sebagai pihak penyelenggara, maupun trainer yang diberi tanggung jawab sebagai pihak yang mentransfer pengetahuan, melatih keterampilan, dan pembentukan perilaku
3.        Penilaian tingkat keberhasilan dari proses pelatihan itu sendiri jarang sekali dilakukan evaluasi secara konsisten dan berkelanjutan, sebagai bahan perbaikan terhadap pelatihan yang diberikan, baik dari segi materi, maupun metode pelatihan yang digunakan.
Jika dalam film Coach Carter, jelas bahwa Coach Carter menetapkan tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh team, dia sendiri yang melakukan pelatihan dan pengembangan terhadap team tersebut, menentukan materi pelatihan, dan metode yang digunakan, dalam tataran implementasi Coach Carter langsung men-direct-nya, sehingga kekurangan dalam pelatihan yang diberikannya dapat diketahui dengan jelas, dan bisa langsung diupayakan penanganannya sebelum kompetisi berikutnya.
Dapatkah hal tersebut di atas diadaptasikan pada sebuah organisasi?. Menurut penulis, hal tersebut dapat dilakukan dengan mempergunakan konsep pelatihan oleh rekan sejawat, dimana biasanya rekan sejawat mengetahui kelebihan dan kekurangan rekan sejawat lainnya, karena interaksi yang dilakukan dalam hubungan pekerjaan dan interaksi pribadi yang dilakukan setiap hari. Jadi, yang diberikan pelatihan oleh organisasi terlebih dahulu adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di atas rata-rata pengetahuan dan keterampilan rekan sejawatnya, dan mereka tersebut memiliki sikap yang dapat diterima oleh rekan-rekannya, sehingga apa yang dilakukan dan dikatakanya merupakan hal yang dapat dipercayai oleh rekan sejawatnya tersebut. Menurut penulis, budaya inilah yang harus dikembangkan, sehingga training yang dilakukan oleh organisasi dimaksudkan untuk membentuk trainer bagi rekan kerjanya yang lain pada bidang sejenis. Dengan demikian evaluasi terhadap hasil yang diharapkan dapat dimonitor langsung oleh trainer yang merupakan rekan sejawat tersebut. Budaya ini selain, akan memberikan dinamika tersendiri bagi organisasi, juga akan menumbuhkan apa yang dikenal dengan continous learning. Jadi pelatihan tidak harus diberikan oleh trainer khusus, namun rekan sejawat juga dapat menjadi trainer bagi rekannya yang lain.
Hal tersebut di atas, selain akan menumbuhkan apa yang dikenal dengan continous leraning juga akan membentuk apa yang disebut dengan communities of practice, dengan demikian pelatihan melalui rekan sejawat merupakan metode pelatihan yang menurut penulis paling efektif untuk memecahkan persoalan-persoalan teknis dan strategi pelaksanaan pekerjaan. Secara tidak langsung aktifitas yang dilakukan oleh kelompok yang disebut communities of practice tersebut akan memunculkan saling berbagi pengalaman, pengetahuan, carar-cara praktis dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaan, dengan demikian muncul dengan sendirinya apa yang dikenal dengan cross training.
Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa, program pelatihan yang diberikan kepada seseorang dapat di implementasikan dilapangan (transfer of training), meskipun manager/atasan yang bersangkutan tidak terlibat pada pelatihan secara langsung, dan tidak mengetahui secara detail materi yang diberikan pada pelatihan tersebut adalah melalui apa yang disebut dengan action plan. Jadi tujuan pelatihan dan materi pelatihan bisa ditetapkan oleh organisasi bersama dengan trainer, namun implementasi di lapangan di direct oleh atasan langsung melalui action plant tersebut. Namun pada kenyataannya, action plant tersebut jarang sekali ditemui pada pelaksanaan program pelatihan. Menurut penulis, action plant sebagai guide merupakan tools yang penting harus disediakan, untuk memastikan transfer of training dan kebermanfaatan dari pelatihan tersebut, sehingga pelatihan yang laksanakan bukan merupakan sesuatu kemubaziran, dimana pengetahuan dan keterampilan diperoleh, namun tidak dimanfaatkan di lapangan.
Pembelajaran pada film Coach Carter yang lain yang dapat kita peroleh yaitu, Coach Carter yang merupakan orang baru di sekolah Richmond, mampu mengidentifikasi persoalan kegagalan team basket sekolah tersebut pada kompetisi antar sekolah. Apakah kemampuan tersebut diperoleh dari pengalaman sebagai pelatih basket, atau memang skill khusus yang harus dimiliki sebagai pelatih basket untuk melihat persoalan kasus per kasus, namun yang jelas Coach Carter memiliki kemampuan mengidentifikasi persoalan kebutuhan pelatihan, dan memberikan pelatihan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Hal yang lebih menarik, yaitu Coach Carter bukan hanya memberikan pelatihan, namun juga pengembangan bagi anggota team yang orientasi hasilnya adalah masa depan mereka, melalui harapan keberlajutan studi mereka keperguruan tinggi, keberlanjutan mereka sebagai anggota team basket universitas nantinya, bahkan harapan bahwa mereka akan berkarier di team basket profesional NBA. Sehingga fokus yang dilakukan oleh Coach Carter bukan hanya pada kondisi saat ini, namun jauh pada situasi yang diharapkan terwujud pada masa yang akan datang, dengan harapan terjadi perubahan pada anggota team baik dari segi pendidikan, kualitas hidup, dan peningkatan strata sosial mereka.

KESIMPULAN
Pesan yang penulis tangkap dari film Coach Carter tersebut, bahwa perbaikan dan perubahan kemampuan, keterampilan, penguasaan pengetahuan, dan perilaku tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan kedisiplinan, kerja keras, ketegasan yang cerdas, dan visi pelatih yang jauh kedepan, dan pendekatan pribadi melalui pemberdayaan, perlakuan yang sama layaknya anak dan bapak, perlakuan melindungi, yang pada akhirnya menumbuhkan motivasi untuk berubah dan berkembang.
Sentuhan seorang pelatih, dan sentuhan kebapakan yang ditunjukkan oleh Coach Carter menjadi kunci keberhasilannya mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu meraih kemenangan dalam kompetisi, dan keberhasilan anak didiknya meraih prestasi akademik sebagai bagian tujuan jangka panjang yang disyaratkan pada anak didiknya. Di sini penulis melihat bahwasanya Coach Carter menggunakan proses pendekatan melalui sosialisasi organisasi dan sosialisasi antisipasi, dimana ada pendekatan yang dilakukan melalui perubahan sikap dan pemberian harapan yang coba direalisasikan menjadi kenyataan dengan komitmen, kedisiplinan, kerja keras, dan kekompakan.
Idealnya pelatihan dan pengembangan yang dilakukan oleh organisasi tersebut menyentuh hal-hal yang menumbuhkan motivasi pada diri peserta, sehingga dengan pelatihan dan pengembangan tersebut mereka seperti diberdayakan, diperhatikan, dihargai, dan dianggap layak untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Jika demikian niscaya pelatihan tersebut memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar pada tataran implementasi, karena peserta menganggap bahwa hal tersebut bukan hanya kebutuhan organisasi, namun juga kebutuhan mereka.
Keberhasilan program pelatihan yang dilakukan oleh organisasi, menurut penulis tergantung pada hal-hal berikut ini.
1.        Identifikasi kebutuhan pelatihan yang sesuai bagi penyelesaian permasalahan yang dihadapi organisasi, metode yang digunakan, dan trainer yang sesuai untuk mengemban tanggung jawab tersebut, apakah dari internal organisasi, atau dengan menggunakan jasa pihak lain.
2.        Identifikasi kesiapan peserta yang mengikuti pelatihan dan pengembangan tersebut, baik dari sisi keyakinan diri peserta, manfaat yang akan diperoleh dari pelatihan tersebut, kesadaran kebutuhan pelatihan tersebut bagi dirinya, dan dukungan dari lingkungan atas keikut sertaan individu tersebut pada kegiatan pelatihan/pengembangan tersebut.
3.        Pelatihan yang diberikan bukan hanya memberikan pembelajaran kepada peserta, namun memberikan makna bahwa pelatihan tersebut memberdayakan mereka, bukannya mengkaji kemampuan-kemampuan yang tidak mereka miliki dalam melaksanakan tugas
4.        Peran atasan langsung yang besar, dimana atasan mengetahui persis tujuan pelatihan dan pengembangan tersebut, materi yang diberikan, dan melakukan evaluasi terhadap implementasi hasil dari pelatihan tersebut dalam pelaksanaan tugas di lapangan, dan ketersediaan action plant sebagai tools yang memonitor transfer of training dan kebermanfaatan pelatihan tersebut.
Pelatihan dan pengembangan memiliki hubungan yang sangat erat, namun pelatihan tidak sama dengan pengembangan, seseorang tidak harus mengikuti pelatihan untuk pengembangan karier, namun tentu saja aspek penguasaan pengetahuan dan kemampuannya akan terbatas. Demikian juga halnya seseorang yang mengikuti pelatihan secara terus menerus, belum tentu akan berkembang kariernya, jika perusahaan tak pernah memiliki rencana pengembangan ke depan untuknya.

DAFTAR BACAAN
Gale, David., Robbins, Brian., Tollin, Michael. 2005. Coach Carter. Paramount Pictures. Sharone Meir, United States, 136 mins.
Noe, Raymond A. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia: Mencapai Keunggulan Bersaing. Jakarta: Salemba 4.

No comments:

Post a Comment