Thursday, December 13, 2012

Rencana Penelitian



STRATEGI MENGATASI KETERBATASAN LAHAN DALAM MENINGKATKAN LAYANAN AKADEMIK DI
FAKULTAS BAHASA DAN SENI - UNP

1.1  Latar Belakang
Persoalan keterbatasan lahan akibat pertumbuhan populasi penduduk saat ini, bukan hanya menjadi masalah di perkotaan. Hal yang sama juga di hadapi oleh institusi perguruan tinggi, jumlah mahasiswa yang terus meningkat setiap tahunnya, tidak diiringi oleh pertambahan lahan. Pada kenyataannya lahan yang dikelola oleh universitas cenderung menurun karena beberapa sebab, antara lain akuisisi lahan oleh masyarakat (penduduk setempat), bencana alam (seperti gempa bumi) yang mengakibatkan beberapa lahan beralih fungsi, dan perubahan aturan/kebijakan atas lahan tersebut. Berikut adalah data luas lahan yang dikelola Universitas Negeri Padang.
Tabel 1. Rekapitulasi Luas Lahan Universitas Negeri Padang
No.
LOKASI KAMPUS
LUAS (M²)
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
1
Kampus I (Utama)
 331.908
 331.908
 331.908
 362.361
 362.361
 349.518
 340.568
 314.670
2
Kampus II (Lubuk Buaya, Padang)
   34.345
   34.345
   34.345
   34.345
   34.345
   34.345
   34.345
   34.345
3
Kampus III (Ulu Gadut, Padang)
   30.000
   30.000
   30.000
   30.000
   30.000
   30.000
   27.930
   27.930
4
Kampus IV (Limau manis, Padang
   37.000
   37.000
   37.000
   35.835
   35.835
   35.835
   35.835
   35.835
5
Kampus V (Belakang Balok, Bukittinggi)
   34.125
   34.125
   34.125
   34.125
   34.125
   34.125
   34.125
   34.125
TOTAL
 467.378
 467.378
 467.378
 496.666
 496.666
 483.823
 472.803
 446.905
Sumber: Biro Administrasi dan Pengembangan Sistem Informasi UNP
Idealnya luas lahan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah mahasiswa, namun tanah dan lahan merupakan aset yang luasnya tidak memiliki kemampuan untuk berkembang dengan sendirinya tanpa ada upaya dari pemiliknya. Di atas lahan kampuslah seluruh fasilitas utama dan penunjang  untuk pelaksanaan kegiatan perguruan tinggi berada, sebagaimana di amanatkan oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 20 Ayat 2 “Perguruan  tinggi  berkewajiban  menyelenggarakan  pendidikan,  penelitian,  dan pengabdian kepada masyarakat”. Tiga kewajiban tersebut dikenal sebagai Tridharma Perguruan Tinggi.
Untuk melaksanakan kewajibannya, perguruan tinggi mengacu pada standar yang ditetapkan oleh BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan) yang dipergunakan sebagai dasar penilaian dan pengembangan bagi perguruan tinggi. Dalam kerangka menindak lanjuti hal tersebut, Dikti secara khusus menerbitkan Surat Edaran No. 2920/DT/2007, tanggal 28 September 2007 bagi perguruan tinggi sebagai tolok ukur penilain kualitas layanan yang diselenggarakan melalui 6 (enam) aspek layanan yang paling penting sebagaimana Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Aspek Layanan Standar di Perguruan Tinggi

No.
Aspek Layanan
Standar
1.
ketersediaan dosen tetap
Rasio Dosen tetap terhadap mahasiswa 1 : 25
2.
ruang kuliah
Ruang Kuliah : 2 m2  / mahasiswa
3.
ruang laboratorium
Ruang Laboratorium : 2 m2 / mahasiswa
4.
ruang kerja dosen
Ruang Kerja dosen : 4 m2 / mahasiswa
5.
ruang komputer
Ruang Komputer : 1 m2 / mahasiswa
6.
akses internet
Akses Internet : 1 kbps/mahasiswa
Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Standar layanan tersebut di atas bukan hanya dipergunakan untuk menentukan kualitas layanan pendidikan tinggi di Indonesia, satu dari 6 aspek layanan tersebut dipergunakan sebagai indikator dalam penilaian QS World University Rankings (Tempo.co, 2012).
Jika diamati dengan seksama aspek layanan standar yang dikeluarkan oleh Dikti tersebut, lima aspek diantaranya berkaitan dengan fasilitas fisik dimana keberadaannya sangat terkait dengan lahan yang tersedia. Jumlah mahasiswa yang terus meningkat, lahan yang terbatas untuk pengembangan fasilitas dan layanan merupakan kondisi yang di temui di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Tabel 3 berikut menunjukkan pertumbuhan jumlah mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni dan luas ruang perkuliahan yang tersedia sebagai fasilitas belajar mengajar bagi mahasiswa.

Tabel 3. Rasio Jumlah Mahasiswa dan Ketersediaan Ruang Perkuliahan
Item
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Jumlah Mahasiswa
1832
2114
2573
3179
3682
4253
4300
4594
Luas Ruang Perkuliahan
1403
2285
2285
2484
2285
3010
2500
2500
Rasio
1:0,8
1:1,1
1:0,9
1:0,8
1:0,6
1:0,7
1:0,6
1:0,5
Sumber: Biro Administrasi dan Pengembangan Sistem Informasi UNP
Rasio luas ruang perkuliahan yang tersedia dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa cenderung menurun, pada tahun 2010 luas ruang perkualiahan bagi satu orang mahasiswa hanya tersedia 0,5 m2, sedangkan untuk standar layanan mensyaratkan rasio ruang kuliah 2 m2 / mahasiswa, maka angka di atas jauh dari memadai, namun hingga saat ini belum ada keputusan strategis yang diambil oleh pihak pengelola fakultas untuk mengatasi hal tersebut.
Secara sederhana hubungan antara pertumbuhan mahasiswa dan ketersediaan layanan standar yang diukur melalui enam aspek layanan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Hubungan Antara Pertumbuhan Jumlah Mahasiswa dan
Aspek Layanan Standar


Gambar 2. berikut menunjukkan lahan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang dan pemanfaatnnya, yang merupakan ilustrasi dari keadaan yang sesungguhnya.

Gambar 2. Ilustrasi dari Keadaan Sesungguhnya Pemanfaatan Lahan
Di Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Ket.:

: Kanal pengendalian pasang-surut


1
: Pendopo (sebagian bangunan berada



  di area kanal)
2
: Musholla (baru: sebagian bangunan berada di


  di area kanal)

: Pusat pelayanan Adm. Fakulta, ruang perkuliahan,


  studio seni, dan lab.
1
: Lab. Bahasa




2
: Ruang perkuliahan darurat


3
: Pusat pelayanan Adm. Jurusan Bind. dan Bing.



4
: Pusat pelayanan Adm. Jurusan Sendratasik
5
: Pusat pelayanan Adm. Jurusan Seni Rupa
6
: Ruang perkuliahan dan studio seni rupa
7
: Musholla (lama)
8
: Pusat kegiatan mahasiswa dan  ruang perkuliahan
1
: Ruang perkuliahan
2
: Ruang perkuliahan (tahap konstruksi)
Sebagian area kanal pasang-surut di manfaatkan sebagai lahan untuk mendirikan bangunan permanen (1, 2), konstruksi sebagian bangunan menutupi area kanal tersebut.

Gambar 2. Foto Udara Fakultas Bahasa dan Seni UNP


 Dalam kurun 5 sampai dengan 10 tahun kedepan kecil kemungkinan terjadi penambahan lahan fakultas, sehingga perlu difikirkan cara untuk mengatasi keterbatasan lahan disatu sisi dimana seluruh fasilitas berada, dan seluruh aktifitas sivitas akademika di laksanakan, berhadapan dengan jumlah mahasiswa di sisi lain yang setiap tahunnya cenderung bertambah.
Penulis melihat bahwasanya penyusunan rencana pengembangan akademik yang mendukung dan menjamin ketersediaan layanan sesuai standar, harus dilakukan sebagai dasar dalam menentukan alternatif strategi guna mengatasi kendala keterbatasan lahan kampus. Melalui rencana pengembangan akademik dan penataan kembali pemanfaatan lahan, diharapkan bukan hanya kebutuhan  layanan bagi sivitas akademika untuk beraktifitas yang terpenuhi, namun aspek keserasian dan keselarasan dengan lingkungan juga diperhatikan dan dipertimbangkan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

1.2  Permasalahan Penelitian
Penyediaan layanan akademik sesungguhnya berhubungan dengan banyak aspek yaitu: 1). Sumberdaya manusia, meliputi tenaga pendidik dan kependidikan; 2). Fasiltas, yang menghubungkan sivitas akademika dan aktifitas yang dilaksanakan yang meliputi ruang kuliah, laboratorium, lab. komputer, ruang kerja dosen; dan 3). Sumber dana untuk pelaksanaan program/kegiatan.
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah layanan dan fasilitas saat ini telah memenuhi standar, dan upaya apa saja yang telah dilakukan untuk memenuhi standar tersebut. Secara spesifik permasalahan penelitiannya adalah sebagai berikut.
a.         Apakah kondisi layanan akademik saat ini telah memenuhi standar yang ditetapkan?
b.        Langkah/keputusan apa saja yang dilakukan untuk memenuhi standar layanan dan penyediaan fasilitas?
c.         Apakah langkah/keputusan tersebut dapat mengatasi keterbatasan layanan dan fasilitas?
d.        Adakah data/informasi yang menjadi dasar pendukung keputusan tersebut?
e.         Adakah alternatif lain untuk memenuhi standar layanan dan fasilitas yang ditetapkan, dengan kondisi keterbatasan lahan?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi alternatif strategi dan memilih strategi untuk mewujudkan fasilitas guna memenuhi standar layanan yang disyaratkan, dimana keberadaan fasilitas untuk mendukung layanan tersebut  mengacu pada 1). data dan informasi; dan 2) memperhatikan aspek keserasian dan keselarasan dengan lingkungan.

1.4 Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini diharapkan alternatif strategi yang dipilih guna mewujudkan layanan standar yang disyaratkan dapat dipenuhi dengan tetap memperhatikan aspek keserasian dan keselaran dengan lingkungan. Kedepan, jika hal tersebut dapat diwujudkan maka tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah peningkatan kualitas layanan, sehingga bukan hanya kemudahan akses untuk memperoleh layanan pendidikan, namun harus diwujudkan akses pendidikan yang berkualitas.

II. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
2.1 Tinjauan Pustaka
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh (Berndtsson et al., 2008) bahwasanya research merupakan kegiatan penyelidikan secara cermat dan sistematis dengan melakukan investigasi terhadap suatu objek penelitian dengan tujuan menemukan sesuatu hal yang dapat dipergunakan untuk merevisi suatu fakta, teori, aplikasi dan sebagainya.
Atas dasar pendapat yang dikemukan di atas penulis akan melakukan penelitian terhadap layanan dan fasilitas standar yang ada di Fakultas Bahasa dan Seni, untuk menemukan suatu hal yang dapat dipergunakan untuk merubah kondisi yang ada. Melalui investigasi secara mendalam, penulis berharap akan menemukan fakta-fakta di lapangan yang dapat menjelaskan kondisi yang ada, untuk kemudian dianalisis guna menemukan kebenaran sebagai dasar penyusunan alternatif strategi dan pemilihan strategi terbaik untuk mengatasi masalah yang ada.

2.2 Landasan Teori
Idealnya perguruan tinggi bukan hanya menjadi tempat belajar bagi mahasiswa, yang menyediakan layanan dan fasilitas standar sebagaimana aturan yang disyaratkan, namun lebih luas lagi merupakan tempat belajar dan pembelajaran bagi semua orang. Kedepan, kampus-kampus yang dikelola oleh perguruan tinggi di Indonesia bukan hanya merupakan kumpulan bangunan-bangunan yang berdiri berserakan, kurang terawat sehingga menimbulkan kesan tidak nyamanan. Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh (Broussard, 2009) Universitas merupakan sebuah tempat yang menciptakan kenangan bagi siswanya, dan bukan merupakan kumpulan koleksi bangunan. Ada jaringan yang menghubungkan antar bangunan pada satu landscape kampus sehingga dimana setiap ruangnya memiliki makna.

2.3 Hipotesis atau Pertanyaan Penelitian
“Diduga keterbatasan lahan mengakibatkan layanan standar akademik belum terpenuhi, dan ketidak tersediaan akses data dan informasi yang akurat menyebabkan pimpinan tidak memiliki alternatif strategi, sehingga  mengambil kebijakan yang keliru yang memiliki dampak jangka panjang”.

No comments:

Post a Comment